Isra Mi’raj dan Literasi Spiritual di Era Digital
Di tengah banjir informasi dan paparan teknologi yang begitu masif, literasi spiritual bagi siswa sekolah dasar menjadi kebutuhan yang mendesak untuk menjaga keseimbangan jiwa mereka. Peristiwa Isra Mi’raj menawarkan narasi yang sangat kuat untuk membentengi anak-anak dari dampak negatif dunia digital yang seringkali menjauhkan mereka dari nilai-nilai ketuhanan. Guru memiliki tanggung jawab besar untuk menerjemahkan keajaiban perjalanan Rasulullah ke dalam bahasa yang relevan dengan logika digital anak-anak Generasi Alpha. Literasi spiritual ini bukan sekadar kemampuan membaca kitab suci, melainkan kemampuan memaknai setiap kejadian dalam hidup sebagai bagian dari skenario besar Sang Pencipta. Melalui pemahaman yang benar tentang Isra Mi’raj, siswa diajak untuk lebih bijak dalam menyaring informasi yang masuk ke dalam pikiran mereka setiap hari. Pendidikan dasar harus menjadi tempat persemaian di mana kecanggihan teknologi berjalan beriringan dengan kejernihan hati yang selalu terhubung dengan Allah. Kita ingin mencetak generasi yang mahir menggunakan gawai namun tetap memiliki kedalaman batin untuk selalu bersujud dan bersyukur.
Implementasi literasi spiritual di era digital dapat dimulai dengan mengajak siswa merenungkan bahwa kecepatan internet yang mereka nikmati hari ini masih belum sebanding dengan kecepatan Buraq dalam Isra Mi’raj. Analogi ini sangat penting untuk memberikan perspektif bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dan lebih cepat daripada teknologi buatan manusia manapun di dunia ini. Guru dapat memanfaatkan konten multimedia yang edukatif untuk menceritakan perjalanan langit Rasulullah agar siswa tidak merasa jenuh dengan metode ceramah konvensional. Dengan pemahaman literasi spiritual yang baik, anak-anak akan belajar untuk menggunakan media sosial dengan penuh tanggung jawab dan etika yang islami. Mereka akan menyadari bahwa setiap ketikan jari di layar ponsel senantiasa diawasi oleh Allah, sebagaimana para nabi menyaksikan kemuliaan Rasulullah di langit. Kesadaran akan kehadiran Tuhan inilah yang akan menjadi filter alami bagi anak-anak saat mereka berselancar di dunia maya yang penuh tantangan. Literasi spiritual adalah kunci agar anak-anak kita tetap memiliki identitas yang kuat sebagai hamba Allah di tengah arus globalisasi yang tanpa batas.
Dr. Ahmad Faisal, seorang pakar teknologi pendidikan Islam, menyatakan bahwa "Digitalisasi tanpa fondasi spiritualitas hanya akan melahirkan robot-robot cerdas yang kehilangan empati dan rasa kemanusiaan terhadap sesamanya." Beliau menekankan bahwa peristiwa Isra Mi’raj adalah materi terbaik untuk mengajarkan konsep 'koneksi' yang sesungguhnya antara hamba dengan Sang Khalik melalui media doa dan shalat. Tanpa literasi spiritual yang memadai, anak-anak akan mudah terombang-ambing oleh tren yang tidak jelas asal-usulnya dan berpotensi merusak akidah mereka di usia dini. Sekolah harus berani mengintegrasikan nilai-nilai Mi’raj ke dalam setiap interaksi digital yang dilakukan oleh siswa di lingkungan sekolah maupun di rumah. Orang tua juga harus berperan aktif sebagai pendamping spiritual yang membantu anak memaknai setiap kemudahan teknologi sebagai bentuk kasih sayang dari Allah SWT. Dengan demikian, era digital tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana untuk semakin meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan siswa.
Selain itu, literasi spiritual juga mengajarkan anak untuk memiliki daya kritis terhadap fenomena 'kecepatan' yang seringkali membuat manusia modern kehilangan kesabaran dan proses. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa meskipun perjalanan itu sangat cepat, setiap perhentian di lapis-lapis langit memiliki makna dan pelajaran yang sangat mendalam bagi Rasulullah. Siswa sekolah dasar perlu diajarkan bahwa dalam belajar, proses adalah hal yang utama dan tidak semua hal bisa didapatkan secara instan seperti mengklik tombol unduh. Kesabaran dalam menuntut ilmu adalah salah satu bentuk implementasi nilai spiritual yang akan membentuk karakter pantang menyerah dalam diri setiap anak didik. Pendidik harus mampu memberikan pemahaman bahwa kesuksesan yang berkah adalah kesuksesan yang diraih dengan melibatkan ridha Allah dalam setiap langkah perjuangannya. Literasi spiritual ini akan membantu siswa untuk tetap tenang dan fokus di tengah dunia yang bergerak sangat cepat dan seringkali membingungkan nalar mereka.
Mari kita jadikan momentum Isra Mi’raj sebagai ajakan untuk memperkuat literasi spiritual anak-anak kita agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan. Pendidikan bukan hanya soal mencetak individu yang kompeten secara teknis, tetapi juga individu yang memiliki integritas moral yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan. Tugas kita adalah memastikan bahwa cahaya iman yang dibawa Rasulullah dari perjalanan Mi’raj-nya tetap menyala di hati sanubari anak didik kita semua. Mari kita bimbing mereka untuk menjadi 'netizen' yang bertaqwa, yang menggunakan ilmu dan teknologinya untuk menyebarkan kebaikan serta kedamaian di muka bumi. Semoga setiap upaya kita dalam membangun literasi spiritual ini menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan manfaat bagi kemajuan peradaban umat manusia. Generasi yang melek spiritual adalah generasi yang akan membawa bangsa ini menuju kejayaan yang hakiki dan penuh dengan keberkahan Ilahi.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita