Isra’ Mi’raj dan Krisis Makna di Tengah Generasi Serba Terkoneksi
Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi komunikasi yang memungkinkan manusia terhubung tanpa batas, banyak orang justru mengalami krisis makna yang mendalam. Media sosial membuat seseorang selalu hadir secara digital, namun sering kali absen secara eksistensial. Dalam kondisi ini, Isra’ Mi’raj dapat dibaca sebagai peristiwa yang mengajak manusia kembali pada makna terdalam dari keberadaan dirinya.
Isra’ Mi’raj bukan
sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan kesadaran yang membawa Nabi
Muhammad SAW melampaui batas ruang, waktu, dan persepsi manusia biasa. Di
tengah budaya digital yang menuntut respons cepat dan reaksi instan, peristiwa
ini justru menekankan pentingnya keheningan batin dan kedalaman refleksi. Ia
mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu dibagikan, tidak semua pengalaman harus
dikonversi menjadi konten.
Dalam kehidupan
sehari-hari, dorongan untuk selalu terlihat aktif, relevan, dan diperhatikan
sering kali membuat seseorang kehilangan relasi dengan dirinya sendiri. Isra’
Mi’raj mengingatkan bahwa makna hidup tidak ditemukan dalam validasi eksternal,
melainkan dalam relasi vertikal yang jujur dan mendalam. Sebuah relasi yang
tidak diukur oleh algoritma, tetapi oleh ketulusan.
Refleksi ini menjadi
sangat penting bagi generasi yang hidup dalam arus informasi tanpa henti. Isra’
Mi’raj mengajarkan bahwa keterhubungan sejati tidak selalu berarti konektivitas
digital, melainkan kemampuan manusia untuk hadir sepenuhnya dalam kesadaran,
tanggung jawab, dan tujuan hidup yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah