Integrasi Nilai Empati dalam Kurikulum Kelas untuk Memperingati Hari AIDS
Sumber: Canva Images
Empati adalah nilai dasar yang sangat penting dalam pencegahan stigma penyakit. Sekolah dasar memiliki kesempatan emas untuk menanamkan empati sejak dini melalui berbagai mata pelajaran. Momentum Hari AIDS dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan nilai ini dengan cara yang tetap aman dan sesuai perkembangan anak.
Guru dapat memasukkan cerita pendek bertema tolong-menolong dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Tokoh-tokoh yang saling membantu dan tidak menjauhi teman merupakan contoh sederhana yang dapat diteladani siswa. Cerita ini dapat menjadi pintu masuk pembahasan ringan tentang menghargai orang lain.
Dalam pembelajaran PPKn, guru dapat mengajak siswa berdiskusi tentang cara memperlakukan teman yang sedang sakit. Diskusi sederhana seperti “Apa yang harus kita lakukan ketika teman batuk atau lemah?” sudah cukup untuk melatih kepekaan sosial mereka tanpa menyebut HIV secara langsung.
Kegiatan membuat poster bertema hidup sehat juga dapat memperkuat pemahaman siswa. Ketika mereka menuliskan pesan “Ayo saling bantu” atau “Jaga tubuh tetap sehat,” mereka sedang menanamkan nilai positif yang relevan dengan isu kesehatan masyarakat.
Guru dapat mengaitkan nilai empati dengan contoh sehari-hari, seperti tidak mengejek teman, mau berbagi tempat duduk, atau membantu membawa buku. Hal kecil seperti ini menjadi dasar kuat untuk mencegah sikap mengucilkan.
Orang tua juga dapat dilibatkan dengan memberikan umpan balik tentang perilaku anak di rumah. Jika anak menunjukkan empati, guru dapat memberikan pujian untuk memperkuat kebiasaan tersebut.
Dengan mengintegrasikan nilai empati dalam kurikulum kelas, sekolah dasar secara tidak langsung berkontribusi pada pencegahan stigma HIV AIDS sekaligus membangun karakter siswa yang lebih peduli terhadap sesama.
Penulis: Danella Putri
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita