Hari Guru Jadi Momentum Evaluasi Mutu Pendidikan Nasional
Hari Guru tahun ini kembali menjadi momen penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Di tengah derasnya perubahan teknologi dan dinamika belajar generasi baru, peran guru kini tidak hanya sebatas pengajar, tetapi juga navigator dalam arus transformasi pendidikan. Namun, perayaan ini bukan sekadar seremoni. Hari Guru justru menjadi titik refleksi bersama: sudah sejauh mana mutu pendidikan Indonesia berkembang, dan apa yang masih harus dibenahi agar tidak tertinggal dari negara lain?
Menurut Prof. Linda Darling-Hammond (Stanford University, 2022), kualitas pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas gurunya. Ia menegaskan bahwa negara yang berhasil meningkatkan performa akademik selalu memulai dari investasi pada profesionalisme guru. Pernyataan ini seharusnya menjadi pengingat bagi Indonesia bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak bisa hanya bertumpu pada kurikulum atau infrastruktur tetapi harus dimulai dari peningkatan kapasitas dan kesejahteraan tenaga pendidik.
Dalam konteks Indonesia, berbagai tantangan seperti kesenjangan kualitas antarwilayah, beban administrasi tinggi, serta akses pelatihan yang belum merata masih menjadi isu klasik. Di sinilah refleksi Hari Guru menjadi relevan. Momentum ini harus mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk kembali memetakan kebutuhan nyata guru di lapangan. Apakah mereka sudah cukup dibekali kompetensi digital? Apakah kesejahteraan mereka memberi ruang untuk fokus pada kualitas pembelajaran? Pertanyaan-pertanyaan ini mengemuka sebagai pintu masuk evaluasi yang lebih mendalam.
Pakar pendidikan global, Dr. Pasi Sahlberg (University of Melbourne, 2023), pernah menyatakan bahwa reformasi pendidikan akan gagal jika guru tidak dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan. Menurutnya, guru adalah aktor utama sekolah, sehingga suara mereka harus menjadi dasar dari arah pembaruan pendidikan. Pernyataan ini seharusnya menginspirasi Indonesia untuk lebih membuka ruang dialog yang konstruktif antara pemerintah dan para pendidik, sehingga setiap kebijakan tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga berbasis kebutuhan riil.
Dengan menjadikan Hari Guru sebagai momentum evaluasi, bangsa ini tidak hanya menghormati jasa para pendidik, tetapi juga menempatkan mereka di pusat transformasi pendidikan nasional. Evaluasi ini bukan untuk mengkritik semata, melainkan untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan pendidikan terbaik. Harapan besar tumbuh dari momentum ini: guru lebih didukung, sistem lebih relevan, dan masa depan pendidikan Indonesia semakin cerah dan kompetitif.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI