Mengapa Anak SD Perlu Belajar Bertanya, Bukan Sekadar Menjawab?
Selama puluhan tahun, sistem pendidikan kita seolah-olah mendewakan kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang benar sebagai indikator kecerdasan utama. Guru memberikan pertanyaan, dan siswa yang paling cepat mengangkat tangan untuk menjawab dianggap sebagai murid yang paling berprestasi di dalam kelas. Namun, di era informasi yang sangat melimpah seperti sekarang, kemampuan untuk sekadar menjawab pertanyaan sudah mulai kehilangan relevansinya karena mesin pencari bisa melakukannya dengan lebih cepat. Tantangan sebenarnya bagi generasi masa depan bukan lagi terletak pada menemukan jawaban, melainkan pada bagaimana mereka mampu merumuskan pertanyaan yang tepat dan kritis. Anak-anak di tingkat sekolah dasar harus mulai dibiasakan untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka melalui pertanyaan-pertanyaan yang mendalam dan reflektif. Dengan bertanya, seorang anak sebenarnya sedang menunjukkan proses berpikir tingkat tinggi yang melibatkan analisis dan sintesis terhadap informasi yang mereka terima.
Melatih anak untuk bertanya membutuhkan pergeseran paradigma yang cukup besar dari sisi pendidik maupun orang tua di rumah. Kita seringkali secara tidak sadar membatasi ruang gerak intelektual anak dengan memberikan pola instruksi yang bersifat satu arah dan kaku. Padahal, setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang siswa SD merupakan pintu masuk menuju pemahaman konsep yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Pendidik harus mampu menciptakan ruang kelas yang aman secara psikologis agar siswa tidak merasa takut atau malu ketika ingin mempertanyakan sesuatu. Ketika anak merasa dihargai saat bertanya, mereka akan tumbuh menjadi individu yang memiliki inisiatif tinggi dalam belajar secara mandiri. Inilah pondasi utama dari karakter pembelajar sepanjang hayat yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi dinamika abad ke-21 yang penuh ketidakpastian.
Seorang pakar pendidikan, Alison Gopnik, pernah mengemukakan bahwa "Anak-anak sebenarnya adalah ilmuwan kecil yang belajar tentang dunia melalui eksperimen dan pertanyaan yang tak henti-hentinya." Kutipan ini menegaskan bahwa secara naluriah, anak-anak memiliki potensi besar untuk menjadi pemikir kritis jika lingkungan sekitarnya memberikan stimulasi yang tepat. Jika kita terus memaksakan mereka untuk hanya menjadi "mesin penjawab", maka kita secara perlahan sedang mematikan potensi kreatif dan daya kritis yang mereka miliki sejak lahir. Oleh karena itu, kurikulum sekolah dasar saat ini perlu memberikan porsi yang lebih besar pada sesi diskusi yang memicu rasa penasaran siswa. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber kebenaran, melainkan sebagai fasilitator yang memandu siswa menemukan pertanyaan-pertanyaan baru. Kemampuan bertanya ini nantinya akan menjadi modal berharga bagi mereka dalam melakukan riset sederhana maupun dalam memecahkan masalah kompleks di masa depan.
Dalam praktiknya, teknik bertanya dapat diajarkan melalui berbagai metode menarik seperti Question Formulation Technique (QFT) yang melatih siswa menyusun daftar pertanyaan tanpa menghakimi benar atau salahnya terlebih dahulu. Melalui latihan yang konsisten, siswa akan mulai memahami perbedaan antara pertanyaan tertutup yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak" dengan pertanyaan terbuka yang memicu diskusi mendalam. Hal ini sangat penting karena pertanyaan yang berkualitas biasanya akan menuntun pada pemahaman yang lebih substansial terhadap suatu materi pelajaran. Misalnya, dalam pelajaran sains, daripada sekadar bertanya "apa nama bagian tumbuhan ini", siswa didorong untuk bertanya "mengapa bentuk daun tumbuhan ini berbeda dengan yang lainnya". Perubahan kecil dalam cara bertanya ini memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap struktur kognitif anak dalam jangka panjang. Mereka tidak lagi menjadi penerima informasi yang pasif, melainkan menjadi partisipan aktif dalam membangun pengetahuan mereka sendiri.
Pada akhirnya, tujuan utama pendidikan dasar bukan hanya untuk membekali anak dengan tumpukan fakta yang mungkin akan usang dalam beberapa tahun ke depan. Kita ingin mencetak generasi yang mampu menavigasi dunia dengan rasa ingin tahu yang tajam dan kemampuan analisis yang kuat melalui pertanyaan-pertanyaan mereka. Keterampilan bertanya adalah bentuk manifestasi dari kemerdekaan berpikir yang harus dipupuk sejak dini agar anak-anak tidak mudah dimanipulasi oleh informasi yang menyesatkan. Dunia masa depan membutuhkan inovator, dan inovasi selalu dimulai dari sebuah pertanyaan yang berani menantang status quo. Mari kita mulai memberikan apresiasi yang lebih tinggi kepada siswa yang berani bertanya di dalam kelas, sekecil apapun pertanyaan tersebut. Dengan demikian, kita sedang menyiapkan mereka untuk menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya pintar menjawab, tetapi cerdas dalam merumuskan solusi melalui pertanyaan yang bermakna.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita