Guru Refleksikan Pentingnya Pembelajaran Humanis
Peringatan Hari Guru 2025 kembali membuka ruang refleksi bagi para pendidik tentang pentingnya menghadirkan pembelajaran yang lebih humanis di sekolah. Para guru menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi tentang memahami siswa sebagai manusia dengan emosi, kebutuhan, dan latar belakang yang beragam. “Anak-anak belajar lebih baik ketika mereka merasa dihargai dan didengarkan,” ujar salah satu pendidik dalam forum Hari Guru tahun ini.
Di banyak sekolah, pendekatan humanis mulai dilirik kembali karena dinilai mampu memperkuat hubungan guru–siswa dan menciptakan suasana belajar yang aman. Para guru mengakui bahwa tekanan kurikulum dan tuntutan administratif sering membuat interaksi personal dengan siswa menjadi terbatas. Padahal, sentuhan empati dari guru merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.
Ahli pedagogi humanistik dari Swiss, Prof. Alena Gruber (2024), menyebut bahwa pembelajaran humanis adalah pendekatan yang menempatkan perkembangan emosional dan sosial siswa sebagai prioritas. “Ketika guru memulai pembelajaran dengan empati dan rasa ingin memahami, siswa akan lebih terbuka dan termotivasi. Humanisme bukan metode tambahan, tetapi landasan dari pendidikan yang bermakna,” jelasnya. Ia menekankan bahwa guru harus dilatih untuk membangun iklim kelas yang penuh kepercayaan.
Sementara itu, pakar interaksi kelas dari Portugal, Dr. Joao Mendonça (2023), menegaskan bahwa pembelajaran humanis hanya bisa muncul jika guru diberi waktu dan ruang untuk benar-benar mengenal siswanya. “Sekolah perlu mengurangi tekanan tugas yang tidak relevan agar guru bisa terlibat secara emosional dan pedagogis. Pembelajaran humanis berkembang dari dialog, bukan dari instruksi satu arah,” ujar Mendonça. Ia mendorong penerapan praktik seperti circle talk dan refleksi harian siswa.
Momentum Hari Guru 2025 diharapkan mendorong transformasi pendidikan menuju pendekatan yang lebih berpihak pada kemanusiaan. Para pendidik percaya bahwa ketika hubungan guru–siswa berjalan dengan tulus dan penuh empati, pembelajaran akan menjadi lebih hidup, bermakna, dan relevan bagi perkembangan karakter. Dengan memperkuat nilai-nilai humanis, sekolah dapat menjadi ruang tumbuh yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan setiap peserta didik.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI