Satu Muharram dan Hijrah Pendidikan Dasar
Wiryanto
Guru Besar Matematika Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
MUHARRAM bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, 1 Muharram adalah momentum hijrah, perpindahan yang tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga mental dan spiritual. Dalam konteks pendidikan dasar, peringatan Tahun Baru Islam 1448 H yang jatuh pada 16 Juni 2026 ini menawarkan cermin yang jernih: sudahkah pendidikan kita berhijrah menuju esensi yang sesungguhnya?
Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah
ke Madinah bukan
pelarian, melainkan strategi transformasi peradaban. Dari kota yang menolak menjadi
bangsa yang membangun. Prinsip ini mestinya menular
ke dalam ruang kelas kita: berpindah dari pendidikan yang hanya menghafal menuju pendidikan yang menalar.
Krisis Berpikir di Pendidikan Dasar
Data Programme for
International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia pada
peringkat yang memprihatinkan dalam literasi membaca, matematika, dan sains.
Ironisnya, anak-anak kita sesungguhnya tidak kekurangan informasi. Yang kurang
adalah kemampuan mengolah informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan
menjadi kebijaksanaan.
Di
kelas-kelas pendidikan dasar, masih dominan pembelajaran yang berpusat pada
guru (teacher-centered). Murid duduk, mendengar, mencatat, lalu mengulang pada saat ujian. Model ini, meski efisien secara logistik, justru memangkas potensi
berpikir kritis yang sesungguhnya
merupakan modal utama abad ke-21.
Lebih jauh,
kurikulum yang padat dan orientasi pada nilai rapor kerap menjadikan proses
belajar sebagai beban, bukan petualangan intelektual. Murid Kelas V sekolah
dasar, misalnya, seharusnya
sudah mampu menganalisis masalah sosial di lingkungannya, mengaitkan
nilai-nilai Pancasila dengan kehidupan nyata. Namun kenyataannya, pelajaran Pendidikan Pancasila sering kali hanya berakhir pada
hafalan pasal dan sila.
![]()
Muharram mengajarkan bahwa perubahan sejati
dimulai bukan dari gedung atau kurikulum, melainkan dari niat dan
keberanian untuk bergerak.
Refleksi Muharram: Hijrah Paradigma Pendidikan
Momentum 1 Muharram semestinya menjadi titik refleksi kolektif bagi para pendidik, orang tua, dan pemangku kebijakan. Pertama, hijrah dari pendidikan berbasis hafalan menuju pendidikan berbasis pemahaman dan penalaran. Kurikulum Merdeka sesungguhnya membuka ruang lebar untuk ini, tetapi implementasinya masih membutuhkan keberanian guru untuk keluar dari zona nyaman metode lama.
Kedua, hijrah dari penilaian tunggal menuju penilaian holistik. Rapor angka tidak cukup merekam kecerdasan seorang anak. Kemampuan berkomunikasi, berempati, bekerja sama, dan memecahkan masalah nyata adalah kompetensi yang tak bisa diringkas dalam angka 0–100.
Ketiga, hijrah dari dikotomi pengetahuan dan nilai. Pendidikan Pancasila di sekolah dasar seharusnya bukan mata pelajaran tersendiri yang berdiri kaku, melainkan jiwa yang meresap ke seluruh aktivitas belajar. Ketika anak berdiskusi tentang pembagian tugas piket, di situ ada Pancasila. Ketika mereka bernegosiasi dalam permainan, di situ ada demokrasi hidup.
Guru sebagai Agen Hijrah
Guru adalah pemegang kunci perubahan. Dalam tradisi Islam, Muharram mengajarkan bahwa hijrah memerlukan keberanian meninggalkan yang lama demi yang lebih baik. Guru yang mau berhijrah, mengubah metode, membuka dialog, memberi kepercayaan kepada murid untuk berpikir bebas, adalah guru yang sedang menjalankan sunah hijrah dalam dimensi pedagogis.
Di Universitas Negeri Surabaya, kami terus mendorong pengembangan model-model pembelajaran inovatif yang menempatkan murid sebagai subjek aktif, bukan objek pasif. Salah satu prinsip yang kami kembangkan adalah bahwa kontekstualisasi materi, analisis mendalam, refleksi diri, dan evaluasi berbasis argumen adalah pondasi pembelajaran yang benar-benar mentransformasi.
Guru yang baik bukan hanya yang bisa menyampaikan materi dengan lancar. Guru yang baik adalah yang mampu membuat muridnya bertanya-tanya, meragukan, lalu menemukan jawabannya sendiri melalui proses berpikir yang jujur dan terstruktur.
Menerjemahkan Hijrah dalam Kelas
Secara praktis, refleksi 1 Muharram dapat diwujudkan dalam tindakan nyata di kelas. Guru dapat memulai tahun ajaran baru dengan mengajak murid merumuskan sendiri apa yang ingin mereka pelajari, sebuah kontrak belajar sederhana yang membangun rasa memiliki. Diskusi kelompok yang autentik, di mana setiap anak diminta mempertahankan argumen dengan bukti, hal ini bisa menjadi latihan demokrasi kognitif sejak dini.
Orang tua pun perlu berhijrah dari mengejar ranking menuju mendukung proses. Ketika anak pulang dengan banyak pertanyaan, bukan sekadar jawaban benar, itu adalah tanda pembelajaran sedang berlangsung dengan baik. Pertanyaan adalah benih pengetahuan; jawaban hafalan hanyalah kerikil yang mengisi ruang tanpa menumbuhkan apa pun.
Akhirnya, 1 Muharram mengingatkan kita bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berani berpindah: dari yang mudah ke yang bermakna, dari yang nyaman ke yang mengubah. Semoga tahun baru Islam ini menjadi awal hijrah nyata bagi dunia pendidikan dasar Indonesia, agar generasi yang tumbuh tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak secara insani.
Penulis : Prof. Dr. Drs. Wiryanto, M. Si.
Editor : Naela Zulianti Ashlah