Dari Tedhak Siten ke Deep Learning: Matematika Tak Boleh Kehilangan Akarnya
Prof. Dr. Wiryanto, M.Si.
Guru Besar
Pendidikan Matematika SD · PGSD FIP Universitas Negeri Surabaya
Karya Ilmiah
Populer: Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2025
Tiga puluh dua tahun saya mengajar
calon guru SD. Sudah ribuan mahasiswa yang duduk di depan saya, sudah ratusan
kelas SD yang saya kunjungi bersama mereka; Dan satu hal yang selalu menghantui
saya sampai hari ini: mengapa begitu banyak anak Indonesia takut pada
matematika? Padahal nenek moyang mereka; para penenun, pengrajin batik, dan
pembangun candi adalah ahli matematika yang luar biasa, bahkan tanpa pernah
menyebut kata itu sekali pun.
Setiap 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Mengutip Ki Hajar Dewantara, kita
bicara tentang pendidikan yang memerdekakan. Tapi hari ini saya ingin mengajak
kita berpikir lebih jauh: apakah pendidikan matematika kita sudah benar-benar
memerdekakan anak dari ketakutan dan kebosanan? Atau justru semakin
mengurungnya dalam jeruji rumus yang tak bermakna?
Matematika bukan tentang rumus yang dihafalkan.
Matematika adalah cara manusia memahami dunianya, dan dunia anak Indonesia
penuh dengan matematika yang indah, kalau kita mau melihatnya.
Pelajaran dari
Tedhak Siten: Matematika yang Hidup di Antara Kita
Beberapa tahun lalu, saya dan tim meneliti tradisi Tedhak
Siten, ritual Jawa ketika bayi pertama kali belajar menginjak tanah. Bagi
kebanyakan orang, ini sekadar upacara adat. Tapi ketika saya dan tim melihatnya
dengan kacamata matematika, kami menemukan sesuatu yang mengagumkan.
Tangga tebu yang dinaiki bayi mengajarkan konsep urutan
dan bilangan ordinal. Kurungan ayam yang menutupinya melambangkan geometri
ruang tiga dimensi. Taburan beras kuning dan bunga mengandung pola distribusi
yang bisa dihubungkan dengan konsep number sense. Semua itu hadir dalam
satu ritual, dan tidak satu pun anak yang ikut upacara itu merasa sedang
belajar matematika, justru karena mereka sedang belajar matematika,
dalam cara yang paling alamiah.
Penelitian itu kami terbitkan di Journal on
Mathematics Education (2022), dan respons dari komunitas ilmiah
internasional cukup menggembirakan. Tapi bagi saya, pesan terbesarnya bukan di
jurnal, melainkan di kelas-kelas SD yang kemudian kami dampingi, ketika
anak-anak yang biasanya pasif tiba-tiba bertanya dengan penuh rasa ingin tahu:
"Pak, jadi batik yang Ibu saya pakai itu ada matematikanya?"
Itulah yang disebut Hans Freudenthal sebagai Realistic
Mathematics Education (RME): matematika harus ditemukan kembali oleh siswa
melalui pengalaman nyata yang bermakna bagi mereka. Bukan dituangkan dari atas
ke bawah. Saya telah mempraktikkan pendekatan ini selama lebih dari dua dekade
di PGSD UNESA, jauh sebelum ia menjadi istilah populer dalam kebijakan
pendidikan nasional.
Pandemi
Membesarkan Cermin yang Sudah Retak
Saya tidak akan pernah melupakan Maret 2020. Dalam
hitungan hari, jutaan anak Indonesia tiba-tiba harus belajar matematika dari
balik layar gawai. Bagi banyak guru dan orang tua, itu adalah krisis tanpa
preseden. Tapi bagi saya, dan ini mungkin terdengar keras, pandemi hanya
membesarkan cermin yang sudah lama retak.
Ketika menulis artikel tentang pembelajaran matematika SD
di tengah pandemi COVID-19, yang kemudian terbit di Jurnal Review Pendidikan
Dasar tahun 2020 dan diunduh lebih dari 26.000 kali, saya mencatat hal yang
menyedihkan: banyak siswa tidak bisa belajar matematika secara daring bukan
hanya karena keterbatasan akses internet, melainkan karena matematika yang
selama ini mereka terima tidak punya konteks. Ketika konteks fisik kelas
hilang, tidak ada yang tersisa.
Anak yang belajar matematika melalui tradisi, permainan,
dan kehidupan nyata punya pegangan yang lebih kuat. Ia tidak bergantung pada
papan tulis atau instruksi guru yang hadir secara fisik. Ia belajar dengan
nalarnya sendiri, karena ia tahu matematika itu ada di sekitarnya. Inilah yang
ingin terus saya sampaikan kepada mahasiswa PGSD saya: jadilah guru yang
mengajarkan matematika sebagai cara berpikir, bukan kumpulan prosedur yang
harus diikuti.
Anak yang belajar matematika melalui kehidupan nyata
tidak bergantung pada papan tulis atau sinyal internet. Ia membawa pemahamannya
ke mana-mana, karena pemahaman itu lahir dari pengalamannya sendiri.
Deep
Learning dan AI: Peluang Besar, Jika Kita Bijak
Tahun ajaran 2025/2026, pemerintah resmi mengintegrasikan
pendekatan deep learning ke dalam
kurikulum, dan mulai memperkenalkan mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial bahkan di jenjang SD. Saya
menyambut ini dengan optimisme yang hati-hati.
Optimisme, karena deep learning dalam konteks
pendidikan, mendorong siswa memahami konsep secara mendalam, berpikir kritis, dan
memecahkan masalah mandiri, adalah persis apa yang selama ini saya perjuangkan
di kelas PGSD FIP UNESA. Pembelajaran matematika yang bermakna, yang berbasis
konteks nyata, yang menantang anak untuk bernalar, bukan menghafal, itu adalah deep learning sebelum
istilah itu populer.
Tapi saya juga hati-hati. Sebab pertanyaan terpentingnya
bukan “apakah anak perlu belajar coding?”,
tentu perlu. Pertanyaannya adalah: bagaimana coding bisa menjadi alat berpikir matematis yang bermakna, bukan
sekadar menghafal sintaks dan perintah? Bagaimana AI bisa melayani pemahaman
yang mendalam, bukan menggantikan proses berpikir anak?
Saya sudah mulai menjajaki ini melalui pengembangan media
KOMIKA-QR, Kartu Domino Hitung Matematika berbasis Kode Quick Response, untuk materi pecahan di SD. Kartu permainan
tradisional yang menghubungkan anak ke konten digital interaktif melalui kode
QR. Bagi saya, ini adalah metafora yang paling tepat untuk pendidikan yang kita
inginkan: akar budaya yang kuat, tumbuh ke atas menjemput masa depan digital.
Teknologi adalah alat. Alat yang paling berdaya justru
ketika ia melayani pemahaman yang mendalam, bukan menggantikannya. Guru
matematika yang baik di era AI adalah guru yang tahu kapan harus membiarkan
anak menemukan sendiri, dan kapan teknologi bisa membantu proses penemuan itu.
Jangan Buang
Akar demi Mengejar Dahan
Dalam semangat Hardiknas ini, saya ingin mengajak
rekan-rekan guru SD, mahasiswa PGSD, dan para pengambil kebijakan untuk
merenungkan satu hal: etnomatematika dan deep
learning bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya berbicara tentang
pemahaman yang utuh, tentang belajar yang bermakna, tentang anak yang tidak
sekadar dipersiapkan untuk ujian melainkan untuk kehidupan.
Tedhak Siten mengajarkan kita bahwa perjalanan dimulai
dengan menginjak tanah, dengan mengenal di mana kita berdiri, dari mana kita
berasal. Perjalanan pendidikan matematika kita pun demikian. Secanggih apa pun
teknologi yang kita gunakan, sekuat apa pun dorongan modernisasi kurikulum,
anak-anak kita perlu tahu bahwa matematika bukan sesuatu yang datang dari negeri
asing. Ia sudah ada di sini, di ritual, di batik, di permainan, di kehidupan
sehari-hari mereka.
Tugas kita sebagai guru, dosen, peneliti, dan penentu
kebijakan adalah menjadi jembatan antara akar itu dan cakrawala yang sedang
kita tuju bersama.
"Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa,
tut wuri handayani."
— Ki Hajar
Dewantara — Bapak
Pendidikan Nasional
Penulis: Prof. Dr. Wiryanto, M.Si
Editor: Arika Rahmania