Guru Minta Penguatan Pendidikan Karakter Terintegrasi
Peringatan Hari Guru tahun ini kembali menegaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran. Para pendidik menilai bahwa karakter tidak bisa diajarkan hanya melalui mata pelajaran tertentu atau kegiatan insidental, melainkan harus hadir dalam setiap interaksi di kelas, budaya sekolah, hingga cara guru memberikan keteladanan. Tantangan moral dan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini membuat penguatan karakter semakin mendesak.
Guru menyampaikan bahwa pembelajaran akademik tanpa fondasi karakter yang kuat tidak akan menghasilkan generasi berdaya saing. Siswa perlu dibentuk dalam aspek integritas, tanggung jawab, empati, dan kemampuan bekerja sama. Hal ini selaras dengan pandangan Prof. Thomas Lickona (2025), pakar pendidikan karakter dari Amerika Serikat, yang menegaskan bahwa “pendidikan karakter harus menjadi jantung pendidikan karena ia membentuk keputusan moral siswa sepanjang hidup mereka.” Guru melihat bahwa integrasi karakter tidak boleh berdiri sendiri, tetapi melekat dalam seluruh praktik belajar.
Di sisi lain, pendekatan pendidikan karakter juga harus mengikuti perkembangan zaman. Tantangan seperti perundungan digital, polarisasi sosial, dan tekanan media sosial membuat siswa membutuhkan bimbingang yang relevan. Dr. Howard Gardner (2025) dari Harvard University menegaskan bahwa “pendidikan karakter masa kini harus lebih kontekstual, menggabungkan nilai moral dengan kecerdasan digital dan sosial.” Pendapat ini disambut baik guru yang mulai memasukkan isu etika digital dan empati sosial ke dalam pembelajaran.
Namun, guru mengakui bahwa implementasi pendidikan karakter sering terhambat beban administrasi, keterbatasan waktu, dan kurangnya dukungan kebijakan. Banyak sekolah masih menempatkan karakter sebagai agenda tambahan, bukan bagian integral dari pembelajaran. Padahal, integrasi karakter justru dapat memperkuat suasana kelas yang positif dan mempermudah proses akademik. Guru berharap ada pelatihan dan panduan praktis yang lebih sistematis untuk membantu penerapan di lapangan.
Momentum Hari Guru menjadi seruan bagi pemerintah, sekolah, dan guru untuk memperkuat kembali komitmen terhadap pendidikan karakter. Dengan integrasi nilai-nilai moral dalam kurikulum, keteladanan guru yang konsisten, serta budaya sekolah yang mendukung, pendidikan karakter dapat menjadi fondasi kuat bagi tumbuhnya generasi yang cerdas secara akademik sekaligus matang secara moral.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI