Guest Lecture: Global Perspectives on Inclusive Education and Child Development in Diverse Contexts
Kuliah tamu bertajuk
“Global Perspectives on Inclusive Education and Child Development in Diverse
Contexts” menghadirkan wawasan internasional mengenai bagaimana pendidikan
inklusif diterapkan di berbagai negara dengan latar sosial, budaya, dan
kebijakan yang berbeda. Kegiatan ini bertujuan memperluas pemahaman peserta
tentang pentingnya sistem pendidikan yang mampu mengakomodasi keberagaman
kebutuhan anak, termasuk anak dengan disabilitas dan kebutuhan khusus. Hal ini
menunjukkan bahwa setiap negara memiliki kebijakan dan strategi yang berbeda
dalam mendukung hak pendidikan bagi semua anak.
Dalam praktiknya, terdapat beberapa
istilah yang sering digunakan secara bergantian, seperti exclusion,
segregation, integration, dan inclusion. Exclusion berarti anak tidak
mendapatkan akses pendidikan sama sekali. Segregation merujuk pada penempatan
anak dengan disabilitas di lingkungan pendidikan yang terpisah. Integration
berarti anak ditempatkan di sekolah umum, tetapi tetap dituntut menyesuaikan
diri dengan sistem yang ada. Sementara itu, inclusion menekankan pada perubahan
sistem pendidikan agar mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan setiap peserta
didik, baik dari segi kurikulum, metode pembelajaran, maupun dukungan yang
diberikan.
Pendidikan inklusif tidak hanya
berbicara tentang penempatan siswa di kelas reguler, tetapi juga tentang
bagaimana kebutuhan mereka diidentifikasi dan dipenuhi secara tepat. Misalnya,
seorang anak dengan keterlambatan bicara membutuhkan asesmen yang sesuai,
dukungan profesional, serta kolaborasi antara guru, orang tua, dan tenaga ahli.
Pertanyaan penting seperti jenis layanan yang dibutuhkan, sumber pendanaan,
serta penyesuaian kurikulum menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem yang
benar-benar inklusif.
Berbagai jenis kebutuhan khusus juga
perlu diperhatikan dalam pendidikan inklusif, seperti autisme, cerebral palsy,
disleksia, kesulitan belajar, disabilitas berat dan majemuk, gangguan
sosial-emosional dan perilaku, serta gangguan pendengaran. Setiap kondisi
memerlukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang berbeda agar anak dapat
berpartisipasi secara optimal dalam kegiatan belajar.
Keberhasilan pendidikan inklusif sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung, seperti fleksibilitas guru, kerja
sama tim yang solid, serta sistem yang sederhana dan kolaboratif. Sebaliknya,
pendekatan yang terlalu berfokus pada aspek medis, pelabelan yang kaku, sistem
hukum yang kompleks, serta asesmen yang terpisah dapat menjadi hambatan. Oleh
karena itu, pendidikan inklusif menuntut perubahan sistemik agar semua anak
dapat belajar bersama dalam lingkungan yang adil, ramah, dan bermakna.
Penulis : Ihza
Latifatun Ni'mah
Editor :
Naela Zulianti Ashlah