
Sumber: RRI
Dulu, tugas guru dalam menjaga sopan santun siswa mungkin terbatas di lingkungan sekolah—menegur siswa yang berlarian di koridor atau yang berbicara kasar di kantin. Namun hari ini, "koridor" itu telah berubah menjadi ruang obrolan WhatsApp, dan "kantin" itu adalah kolom komentar Instagram atau TikTok.
Tantangan terbesar dalam pendidikan dasar saat ini adalah mengajarkan etika digital. Anak-anak usia sekolah dasar adalah digital natives yang fasih menggunakan gawai, namun sering kali naif secara emosional. Mereka belum sepenuhnya memahami bahwa kata-kata yang diketik memiliki dampak emosional yang sama, atau bahkan lebih tajam, daripada kata-kata yang diucapkan langsung.
Di sinilah komitmen guru diuji. Guru tidak bisa lagi bersikap apatis terhadap kehidupan maya siswanya. Pendidikan karakter kini harus mencakup netiquette (etika berinternet). Ini bukan hanya tentang melarang cyberbullying, tetapi menanamkan empati: "Apakah yang aku ketik ini akan menyakiti teman di seberang layar?"
Guru perlu menjadi jembatan yang menyadarkan siswa bahwa jejak digital adalah permanen. Komitmen ini menuntut guru untuk proaktif berdiskusi, bukan sekadar melarang penggunaan gawai, melainkan membimbing bagaimana menjadi manusia yang beradab di tengah hutan belantara algoritma.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita