Empati pada Kaum Marginal: Wajah Asli Patriotisme
Sumber: Gemini AI
Patriotisme sering digambarkan dengan heroisme yang gagah berani, mengangkat senjata, atau memenangkan medali emas di olimpiade. Namun, dalam perspektif pedagogi kritis dan humanis, wajah asli patriotisme sesungguhnya terlihat dari bagaimana kita memperlakukan kaum marginal: mereka yang miskin, difabel, lansia, atau minoritas yang tersisih. Mengajarkan siswa SD untuk berempati dan peduli pada kelompok rentan ini adalah bentuk pendidikan kewarganegaraan yang paling luhur. Siswa diajarkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa kaya orang kayanya, tetapi dari seberapa terlindungi orang yang paling lemahnya.
Membangun empati pada kaum marginal harus melampaui rasa kasihan (pity) yang menempatkan objek sebagai pihak yang rendah, menuju rasa solidaritas (solidarity) yang setara. Guru bisa mengajak siswa melakukan kunjungan ke panti asuhan, sekolah luar biasa (SLB), atau komunitas masyarakat adat, bukan sekadar untuk memberi sumbangan, tetapi untuk berinteraksi dan bermain bersama. Dari interaksi langsung ini, siswa akan menyadari bahwa di balik perbedaan fisik atau ekonomi, kaum marginal memiliki mimpi, tawa, dan harapan yang sama dengan mereka. Sekat "kita" dan "mereka" dilebur menjadi "kita sesama anak Indonesia".
Di dalam kelas, materi pelajaran bisa dikaitkan dengan isu-isu marginalitas untuk membuka wawasan sosial siswa. Misalnya, saat membahas transportasi umum, guru bisa memantik diskusi: "Apakah bus di kota kita sudah ramah untuk teman yang memakai kursi roda?" atau "Bagaimana cara tunanetra menyeberang jalan?". Pertanyaan ini melatih siswa untuk melihat dunia dari perspektif orang lain dan menyadari bahwa fasilitas publik harus inklusif. Kesadaran ini akan menanamkan cita-cita pada siswa untuk kelak menciptakan kebijakan atau teknologi yang memudahkan hidup semua orang, tanpa terkecuali.
Penting juga untuk mengajarkan siswa agar berani membela (stand up) jika melihat kaum marginal diperlakukan tidak adil atau diejek. Guru menanamkan keberanian moral bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah bentuk pembiaran yang tidak patriotik. Menjadi "teman" bagi mereka yang tidak punya teman adalah aksi pahlawan masa kini. Karakter pelindung dan pengayom ini sangat penting untuk membentuk kepribadian bangsa yang welas asih dan beradab.
Empati pada kaum marginal adalah bukti bahwa Pancasila benar-benar hidup di hati generasi muda. Patriotisme jenis ini mungkin tidak masuk berita TV, tetapi dampaknya nyata dalam merajut kohesi sosial yang mulai renggang. Ketika siswa SD menyisihkan uang jajannya untuk teman yang musibah, atau menuntun orang buta menyeberang jalan, di sanalah Indonesia sedang tegak berdiri dengan bermartabat. Mari kita didik anak-anak untuk mencintai negerinya dengan cara mencintai rakyatnya, terutama mereka yang paling membutuhkan uluran tangan.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita