Edukasi Gizi Berbasis Komunitas: Melibatkan Komite Sekolah
Edukasi gizi tidak akan mencapai hasil maksimal jika hanya dilakukan di dalam ruang kelas tanpa melibatkan ekosistem pendukung yang lebih luas, terutama komite sekolah. Komite sekolah, sebagai representasi dari orang tua dan tokoh masyarakat, memiliki kekuatan sosial untuk menggerakkan perubahan perilaku kesehatan di lingkungan rumah dan sekitar sekolah. Melalui kolaborasi yang strategis, komite sekolah dapat membantu menyosialisasikan pentingnya pencegahan stunting kepada seluruh wali murid tanpa terkesan menggurui secara akademis. Sering kali, pesan gizi lebih mudah diterima oleh orang tua jika disampaikan oleh rekan sejawat atau tokoh lokal yang mereka hormati dalam forum komite. Integrasi antara visi pendidik dan kepedulian komunitas inilah yang akan menciptakan jaring pengaman gizi yang kokoh bagi seluruh siswa.
Peran konkret komite sekolah dapat diwujudkan dalam penggalangan sumber daya untuk program pemberian makanan tambahan (PMT) yang berbasis kearifan lokal. Komite dapat memfasilitasi kerjasama dengan petani atau peternak lokal untuk mendapatkan pasokan telur atau susu dengan harga yang lebih terjangkau bagi keperluan sekolah. Selain itu, mereka juga berperan penting dalam mengawasi jenis jajanan yang dijual oleh pedagang di sekitar pagar sekolah agar tetap memenuhi standar kesehatan dasar. Dengan adanya pengawasan berbasis komunitas, sekolah tidak lagi berjuang sendirian dalam membentengi siswa dari paparan makanan rendah nutrisi di luar kendali guru. Komite sekolah juga bisa menginisiasi pelatihan memasak sehat bagi orang tua yang kesulitan menyusun menu bergizi dengan anggaran terbatas.
"Pendidikan gizi adalah tanggung jawab kolektif, dimana komunitas sekolah menjadi laboratorium hidup untuk mempraktikkan gaya hidup sehat secara konsisten," ujar Prof. Dr. Fasli Jalal. Beliau menekankan bahwa tanpa dukungan komite sekolah, program-program gizi yang dirancang secara teknokratis di tingkat pusat akan sulit menyentuh realitas harian keluarga siswa. Sinergi antara guru dan komite menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap kesehatan anak yang melampaui kepentingan angka akademik semata. Komunitas yang peduli gizi akan secara otomatis menciptakan lingkungan yang tidak mentoleransi adanya kasus kekurangan gizi di antara anggota mereka. Inovasi pendidikan dasar di masa depan haruslah menempatkan pelibatan masyarakat sebagai pilar utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
Selain pengawasan dan penyediaan pangan, komite sekolah juga dapat menjadi jembatan informasi antara sekolah dengan puskesmas atau instansi kesehatan terkait. Mereka bisa membantu mengatur jadwal pemeriksaan kesehatan rutin atau skrining status gizi siswa agar partisipasi orang tua mencapai tingkat maksimal. Melalui platform komunikasi komite, testimoni keberhasilan perbaikan gizi anak dapat dibagikan untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi keluarga lainnya. Pendekatan ini sangat efektif untuk memecah kebuntuan informasi dan rasa skeptis yang mungkin dimiliki sebagian orang tua terhadap program kesehatan sekolah. Kepercayaan yang terbangun dalam komunitas sekolah menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam mempercepat penurunan prevalensi stunting nasional.