DTPS S3 PENDIDIKAN DASAR UNESA PERKUAT IMPLEMENTASI DEEP LEARNING DAN PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DI SEKOLAH ALAM INSAN MULIA
Surabaya, 4 Juli 2025 — DosenTetap Program Studi (DTPS) S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya(UNESA) menyelenggarakan workshop intensif dalam lima sesi yang ditujukan bagi para guru Sekolah Dasar dari Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya. Kegiatan ini mengangkat tema “Implementasi Deep Learning dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran”, dan dilaksanakan sebagai respons terhadap kebutuhan peningkatan kapasitas guru dalam mengadaptasi pendekatan pembelajaran inovatif, kontekstual, dan transformatif. Selama dua bulan pelaksanaan, paraguru SD SAIM mengikuti lima rangkaian sesi pelatihan yang dirancang sistematisdan aplikatif, mencakup berbagai aspek penting dalam penguatan peran gurusebagai perancang sekaligus pelaksana pembelajaran bermakna.
Lima Sesi Pelatihan yang Komprehensif

Rangkaian workshop dilaksanakan pada lima hari berbeda dengan topik yang saling berkesinambungan:
1. Sesi 1 – Penilaian HOTS (Higher Order Thinking Skills)
Sesi pertama membahas konsep, prinsip, dan implementasi penilaian berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi. Guru-guru dilatih untuk menyusun soal dan instrumen evaluasi yang mampu mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan reflektif, sesuai dengan arah pembelajaran Kurikulum Merdeka.
2. Sesi 2 – Penguatan Literasi dan Numerasi
Pada sesi ini, peserta mengeksplorasi strategi pembelajaran literasi dan numerasi yang efektif untuk siswa sekolah dasar. Materi difokuskan pada bagaimana guru dapat menumbuhkan kemampuan memahami bacaan dan berpikir logis-matematis secara kontekstual dan menyenangkan.
3. Sesi 3 – Pembelajaran Terpadu dan Deep Learning
Sesi ketiga menggabungkan dua pendekatan penting: pembelajaran tematik-terpadu dan pendekatan deep learning. Guru dilatih untuk merancang proses pembelajaran yang tidak hanya interdisipliner, tetapi juga mendalam, berorientasi proses, serta memberikan makna jangka panjang bagi peserta didik.
4. Sesi 4 – Pengembangan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)
Sesi ini memberikan ruang praktik bagi guru untuk menyusun LKPD yang interaktif, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan keterampilan abad 21. Guru-guru didorong untuk membuat lembar kerja yang tidak hanya menekankan konten, tetapi juga strategi pemecahan masalah dan eksplorasi aktif.
5. Sesi 5 – Integrasi dan Finalisasi Produk Pembelajara
Sesi terakhir merupakan momen integratif dari keseluruhan materi yang telah dipelajari. Pada tahap ini, guru-guru mengkolaborasikan hasil pelatihan ke dalam rancangan pembelajaran lengkap dan produk akhir, berupa perangkat ajar dan LKPD tematik yang siap digunakan dalam kelas. Sesi ini juga dilengkapi dengan sesi presentasi produk, umpan balik konstruktif dari fasilitator, serta refleksi bersama.
Komitmen Bersama Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Workshop ini tidak hanya menjadi ajang pelatihan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dan refleksi bersama antara UNESA dan SAIM. Setiap sesi dirancang dengan metode interaktif seperti studi kasus, diskusi kelompok, praktik langsung, serta evaluasi berbasis proyek. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan partisipasi aktif guru, sekaligus membuka ruang dialog kritis atas tantangan pembelajaran di lapangan. “Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa guru-guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikan strategi pembelajaranyang relevan dengan konteks kelas mereka masing-masing,” ujar salah satu DTPSS3 Pendidikan Dasar UNESA. “Kami percaya bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah akan memperkuat ekosistem pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan.”
Pihak SAIM menyambut positif kegiatan ini dan menyampaikan apresiasi atas kontribusi UNESA dalam pengembangan profesionalisme guru. Workshop ini dinilai sangat bermanfaatkarena memberikan pemutakhiran pengetahuan dan keterampilan yang aplikatif dalam pengajaran sehari-hari. Kegiatan ini menegaskan peran aktif S3 Pendidikan Dasar UNESA dalam mengembangkan pendidikan dasar di Indonesia melaluikolaborasi nyata dan pelatihan berbasis kebutuhan. Harapannya, model pelatihan seperti ini dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain sebagai bagian dari upaya kolektif meningkatkan kualitas pembelajaran di jenjang pendidikan dasar.
Author: Nadia Anike & Firstlyta Bulan