Dilema AI di Kelas: Membantu atau Menggantikan Peran Guru?
Sumber: Canva Image
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) membuat banyak guru bertanya-tanya: apakah alat ini benar-benar membantu, atau justru perlahan menggeser posisi mereka? Kekhawatiran ini muncul bukan karena guru tidak ingin beradaptasi, tetapi karena perubahan teknologi terasa terlalu cepat dan belum sepenuhnya dipahami.
Di kelas, AI menawarkan banyak kemudahan. Ia dapat membuat soal otomatis, menganalisis hasil belajar, bahkan memberikan rekomendasi pengajaran. Bagi guru yang bebannya berat, AI menjadi asisten yang sangat berguna. Namun ada sisi lain: beberapa guru merasa proses kreatif mereka “digantikan.”
AI tidak memiliki intuisi, empati, atau naluri pedagogis yang dimiliki guru. Ia hanya bekerja berdasarkan pola data. Karena itu, AI tidak akan pernah bisa menggantikan peran guru sebagai pembimbing karakter, motivator, dan figur yang memberi teladan. Guru tetap menjadi pusat nilai pendidikan.
Tantangan yang lebih besar justru terletak pada bagaimana menggunakan AI secara etis dan proporsional. Guru harus memahami cara kerja AI agar tidak salah kaprah, misalnya menggunakan output mentah tanpa revisi, atau terlalu mengandalkan sistem otomatis hingga kreativitas mengajar berkurang.
Ada pula kekhawatiran terkait data siswa. Jika sekolah menggunakan platform AI tanpa memahami kebijakan privasi, informasi pribadi siswa dapat berisiko. Guru perlu dibekali pemahaman literasi digital yang lebih dalam untuk menjaga keamanan data.
Di dunia nyata, guru yang memanfaatkan AI dengan bijak menemukan bahwa teknologi ini justru memperkaya pembelajaran. Mereka dapat fokus pada interaksi dengan siswa sementara tugas administratif ditangani AI. Kemampuan mereka justru meningkat, bukan tergantikan.
Pada akhirnya, dilema AI bukan tentang digantikan, melainkan tentang bagaimana guru tetap menjadi pusat pembelajaran sementara AI menjadi alat pendukung yang memperkuat kualitas pendidikan.
Penulis: Danella Putri
Editor: Firstlyta Bulan