Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa: Mengajarkan Sejarah Islam yang Luas
Perjalanan horizontal Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina dalam peristiwa Isra bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan penegasan tentang keterhubungan sejarah kenabian yang sangat luas. Bagi siswa sekolah dasar, memahami rute ini adalah pintu masuk untuk mengenali geografi spiritual dan warisan peradaban Islam yang melintasi batas-batas teritorial modern. Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam menjadi simbol betapa pentingnya menjaga ingatan sejarah tentang perjuangan para nabi terdahulu yang berkumpul di sana untuk shalat bersama Rasulullah. Guru memiliki peran penting dalam mengemas narasi sejarah ini agar tidak membosankan, dengan menonjolkan nilai keberagaman dan persatuan dalam risalah ketuhanan. Mengajarkan sejarah ini secara komprehensif akan menumbuhkan rasa cinta siswa terhadap tanah suci dan memperluas wawasan mereka tentang dunia Islam secara global.
Dalam konteks pedagogi, pengajaran sejarah yang menghubungkan dua tempat suci ini membantu siswa membangun pemikiran kronologis dan kontekstual mengenai perkembangan agama Islam. Anak-anak diajak untuk melihat bahwa Islam bukanlah agama yang muncul secara terisolasi, melainkan kelanjutan dari pesan-pesan suci yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Hal ini sangat krusial untuk menanamkan sikap toleransi dan keterbukaan pikiran dalam diri siswa sejak usia dini agar mereka tidak memiliki pandangan yang sempit. Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam banyak tulisannya sering menekankan bahwa "Sejarah bukan sekadar kumpulan angka tahun, melainkan laboratorium nilai di mana generasi muda belajar tentang identitas dan integritas peradaban." Kutipan ini memperkuat argumen bahwa mengajarkan rute Isra adalah upaya strategis dalam memperkuat identitas keislaman yang moderat dan inklusif di lingkungan sekolah dasar.
Implementasi di ruang kelas dapat dilakukan dengan penggunaan media visual seperti peta sejarah interaktif atau teknologi augmented reality yang memungkinkan siswa mengeksplorasi arsitektur kedua masjid suci tersebut. Dengan melihat detail fisik dan sejarah di balik Masjidil Haram serta Masjidil Aqsa, siswa akan memiliki kedekatan emosional yang lebih kuat terhadap situs-situs bersejarah tersebut. Guru dapat memberikan tugas proyek bagi siswa untuk mencari tahu apa saja yang ada di dalam kompleks Masjidil Aqsa, sehingga mereka aktif mencari informasi secara mandiri. Diskusi mengenai peristiwa di mana Rasulullah mengimami para nabi di Masjidil Aqsa dapat dijadikan analogi tentang pentingnya kepemimpinan yang merangkul semua pihak. Lingkungan sekolah yang kaya akan narasi sejarah yang luas akan membentuk karakter siswa yang visioner dan bangga akan warisan agamanya yang agung.
Selain itu, pengajaran sejarah ini juga harus dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial terhadap kondisi saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia. Memahami pentingnya Masjidil Aqsa akan menumbuhkan rasa empati dalam diri siswa terhadap isu-isu keadilan dan perdamaian internasional yang menjadi perhatian umat Islam hingga hari ini. Orang tua di rumah juga dapat berperan dengan membacakan buku-buku sirah yang menceritakan keutamaan kedua masjid tersebut sebagai bahan diskusi sebelum tidur. Sinergi antara materi di sekolah dan pendalaman di rumah akan memastikan bahwa anak-anak memiliki pemahaman sejarah yang utuh dan tidak terputus-putus. Pengetahuan yang luas tentang sejarah akan menjadi benteng bagi siswa dari segala bentuk informasi keliru yang dapat mendistorsi pemahaman keagamaan mereka di masa depan.
Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan momentum Isra Mi’raj untuk memperkaya kurikulum sejarah Islam di sekolah-sekolah kita dengan materi yang lebih substansial dan menarik. Mengajarkan rute dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa adalah cara kita menjaga nyala api peradaban di hati generasi muda agar mereka tetap terhubung dengan akar spiritualnya. Kita ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran sejarah yang mendalam sebagai bagian dari umat yang besar. Semoga setiap pelajaran yang kita berikan mampu membuka cakrawala berpikir siswa menuju pemahaman agama yang lebih dewasa dan mendalam. Dengan sejarah sebagai kompas, kita yakin masa depan pendidikan Islam di Indonesia akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menjaga harmoni dunia dengan berpijak pada nilai-nilai nubuwah yang abadi.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita