Dari Hal Kecil: Langkah Nyata Menjaga Kualitas Air
Seringkali kita merasa bahwa masalah krisis air bersih adalah tanggung jawab besar yang hanya bisa diselesaikan oleh insinyur atau kebijakan pemerintah melalui proyek infrastruktur yang megah. Padahal, realitas menunjukkan bahwa perubahan kualitas air yang signifikan di tingkat nasional bermula dari akumulasi tindakan individu-individu di lingkungan rumah tangga masing-masing. Sebagai akademisi di bidang pendidikan dasar, kita memahami bahwa karakter "peduli lingkungan" tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui pembiasaan terhadap langkah-langkah nyata yang sederhana. Air adalah elemen yang sangat sensitif terhadap perilaku manusia, sehingga setiap liter air yang kita selamatkan dari pencemaran adalah kontribusi nyata bagi kelangsungan hidup ekosistem. Mari kita mulai mengidentifikasi hal-hal kecil di sekitar rumah yang selama ini mungkin kita abaikan, namun ternyata berdampak besar pada kejernihan sumber air kita. Dengan kesadaran yang tinggi, kita bisa mengubah rutinitas harian menjadi aksi pelestarian air yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat di sekitar kita.
Salah satu langkah nyata yang sangat berdampak adalah dengan mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang seringkali berakhir menjadi mikroplastik di dalam sumber air kita. Mikroplastik yang sangat kecil ini sangat sulit untuk disaring dan dapat masuk ke dalam rantai makanan hingga akhirnya dikonsumsi oleh manusia tanpa kita sadari. Dengan beralih menggunakan botol minum isi ulang dan membawa tas belanja sendiri, kita telah secara langsung mengurangi potensi kontaminasi limbah plastik ke dalam sungai dan air tanah. Anak-anak harus diajarkan bahwa plastik yang dibuang sembarangan tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan merusak kualitas air yang mereka butuhkan untuk mandi dan minum. Penjelasan yang logis dan menyentuh sisi empati anak akan membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengelola sampah pribadi mereka setiap hari. Mari jadikan gaya hidup bebas plastik sebagai identitas keluarga kita sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap kejernihan air di Indonesia.
Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan penghematan air secara disiplin di setiap aktivitas rumah tangga, seperti saat mandi, mencuci piring, atau mencuci kendaraan pribadi. Menggunakan air secukupnya bukan berarti kita bersikap pelit, melainkan merupakan bentuk penghargaan terhadap sumber daya alam yang proses pemurniannya memakan waktu sangat lama. Setiap liter air yang tidak kita buang secara percuma berarti kita telah membantu menjaga tekanan air tanah agar tetap stabil dan mencegah intrusi air laut ke daratan. Kita bisa menggunakan gayung atau gelas saat menggosok gigi agar air tidak mengalir terus-menerus dari keran tanpa ada manfaatnya sama sekali. Anak-anak dapat diberikan tugas sebagai "pengawas keran" di rumah untuk memastikan tidak ada air yang terbuang sia-sia akibat kelalaian anggota keluarga. Praktik penghematan ini jika dilakukan secara kolektif akan sangat membantu ketersediaan air bersih di musim kemarau yang seringkali menyebabkan krisis air di berbagai daerah.
Kita juga perlu memperhatikan penggunaan pupuk dan pestisida kimia di taman rumah yang jika digunakan berlebihan dapat terserap ke dalam tanah dan mencemari air sumur. Beralihlah ke penggunaan pupuk organik atau kompos hasil olahan sampah dapur sendiri yang jauh lebih aman bagi kualitas air tanah di sekitar pemukiman kita. Sisa-sisa bahan kimia dari pupuk sintetis yang masuk ke dalam sistem hidrologi tanah dapat menyebabkan kandungan nitrat dalam air meningkat dan membahayakan kesehatan bayi serta balita. Dengan berkebun secara organik, kita tidak hanya mendapatkan tanaman yang sehat tetapi juga menjamin air di bawah rumah kita tetap murni dan bebas dari racun berbahaya. Mengajarkan anak cara membuat kompos sederhana adalah pelajaran sains lingkungan yang sangat berharga dan berdampak langsung pada kelestarian air di masa depan. Setiap tindakan yang mendukung keseimbangan alam di halaman rumah akan memberikan timbal balik positif berupa lingkungan yang lebih sehat dan asri bagi seluruh keluarga.
Sebagai penutup, mari kita yakini bahwa setiap tindakan kecil yang kita lakukan dengan niat tulus untuk menjaga air bersih akan membuahkan hasil yang luar biasa jika dilakukan secara konsisten. Hari Lingkungan Hidup Indonesia adalah saat yang tepat untuk memperbarui janji kita dalam menjaga kesucian air sebagai sumber kehidupan utama bagi semua makhluk. Jangan menunggu hingga krisis air melanda rumah kita baru kemudian kita bergerak, karena mencegah pencemaran jauh lebih mudah daripada membersihkan air yang sudah terlanjur kotor. Sampaikanlah langkah-langkah nyata ini kepada tetangga dan komunitas sekolah agar tercipta gerakan bersama yang masif dan berkelanjutan di tingkat lokal. Pendidikan dasar yang kuat tentang literasi air akan melahirkan generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki kesalehan ekologis yang tinggi. Mari kita jaga air kita, agar air tetap menjaga kehidupan kita dan masa depan bangsa Indonesia tetap jernih dan gemilang selamanya.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita