Bhinneka Tunggal Ika dalam Praktik: Menghapus Bullying Lewat Dialog
Sumber: Gemini AI
Perundungan atau bullying di sekolah dasar sering kali bukan sekadar kenakalan anak biasa, melainkan cerminan dari ketidakmampuan menerima perbedaan yang ada di lingkungan sekitar. Ejekan fisik, rasial, atau status sosial adalah bentuk pengkhianatan terhadap semangat Bhinneka Tunggal Ika yang seharusnya dijunjung tinggi. Oleh karena itu, penanganan bullying tidak cukup hanya dengan hukuman disiplin, tetapi harus melalui pendekatan pedagogis yang menyentuh akar masalah: intoleransi dan kurangnya empati. Menghapus bullying lewat dialog berarti mengubah budaya sekolah dari yang menghukum (punitive) menjadi memulihkan (restorative), di mana pelaku diajak memahami dampak perbuatannya terhadap persatuan kelas.
Dialog restoratif mempertemukan pelaku dan korban dalam suasana yang aman dan dipandu guru, bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk berbagi perasaan. Pelaku ditanya, "Apa yang kamu pikirkan saat melakukan itu?" dan korban ditanya, "Apa yang kamu rasakan dan apa dampak bagi harimu?". Proses ini memaksa pelaku melihat korban sebagai manusia utuh yang bisa terluka, bukan objek pelampiasan. Sering kali, bullying berhenti ketika empati pelaku berhasil dibangkitkan melalui percakapan dari hati ke hati ini. Dialog ini mengajarkan bahwa setiap tindakan menyakiti orang lain adalah luka bagi kemanusiaan kita bersama.
Guru juga perlu membuka ruang dialog klasikal untuk membahas isu bullying secara terbuka, tidak menutup-nutupinya demi "nama baik sekolah". Ajak siswa mendiskusikan skenario: "Jika ada teman yang diejek karena logat bicaranya, apa yang harus kita lakukan sebagai kelas yang kompak?". Siswa diajak menyepakati aturan bersama bahwa kelas mereka adalah zona bebas perundungan, di mana setiap orang saling melindungi. Kesepakatan yang lahir dari musyawarah siswa akan lebih dipatuhi daripada aturan tempelan di dinding. Ini adalah praktik demokrasi dan gotong royong dalam menjaga iklim sosial sekolah.
Selain itu, Bhinneka Tunggal Ika harus dipraktikkan dengan membiasakan siswa berteman lintas kelompok ("cross-group friendship") melalui pengaturan guru. Seringkali bullying terjadi karena ketidaktahuan atau prasangka terhadap kelompok yang berbeda ("the other"). Dengan memaksa interaksi positif dalam tugas kelompok atau permainan, sekat-sekat prasangka itu perlahan runtuh. Ketika siswa mengenal temannya secara pribadi, alasan untuk melakukan perundungan akan hilang dengan sendirinya. "Tak kenal maka tak sayang" adalah pepatah yang sangat relevan dalam konteks pencegahan bullying.
Menghapus bullying adalah prasyarat mutlak bagi terciptanya sekolah yang patriotik dan humanis. Kita tidak bisa bicara soal cinta tanah air jika di dalam kelas masih ada anak yang menangis karena ditindas temannya sendiri. Sekolah harus menjadi tempat di mana Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan di lambang garuda, tetapi praktik hidup sehari-hari yang mendamaikan. Mari kita ganti budaya kekerasan dengan budaya dialog, agar setiap anak merasa sekolah adalah rumah kedua yang aman dan penuh kasih sayang.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita