Benarkah Stunting Mempengaruhi IQ? Menelaah Hasil Riset Pendidikan
Pertanyaan mengenai pengaruh stunting terhadap tingkat intelegensi (IQ) adalah salah satu topik paling sensitif namun sangat krusial untuk dibahas dalam forum akademik pendidikan dasar. Berbagai riset longitudinal tingkat dunia telah mengkonfirmasi bahwa anak yang mengalami stunting pada usia di bawah dua tahun cenderung memiliki skor IQ yang lebih rendah 5 hingga 11 poin dibandingkan anak normal. Penurunan skor ini disebabkan oleh kerusakan permanen pada struktur otak di masa pertumbuhan cepat, yang mengakibatkan berkurangnya kepadatan neuron dan konektivitas saraf. Dalam konteks sekolah dasar, selisih poin IQ ini terlihat dari kecepatan belajar yang melambat dan kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak yang mulai diperkenalkan di kelas tinggi. Namun, penting untuk dicatat bahwa IQ bukanlah harga mati, melainkan indikator kapasitas yang sangat dipengaruhi oleh dukungan lingkungan pendidikan.
Meskipun dampak biologis stunting pada otak bersifat menetap, riset terbaru dalam bidang psikologi pendidikan menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang kaya akan stimulasi dapat memberikan kompensasi bagi keterbatasan tersebut. Anak-anak dengan riwayat stunting yang ditempatkan dalam lingkungan pendidikan yang mendukung dan mendapatkan nutrisi perbaikan menunjukkan peningkatan performa kognitif yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa peran guru di sekolah dasar sangat vital sebagai agen "penyelamat" potensi intelektual siswa yang terhambat. Kita tidak boleh menyerah pada angka-angka riset yang suram, melainkan menggunakannya sebagai landasan untuk menciptakan metode pengajaran yang lebih intensif dan personal. Stunting memang membebani IQ, tetapi dedikasi pendidik dapat membantu anak melampaui batas-batas biologisnya.
Prof. Dr. Muhadjir Effendy, dalam kapasitasnya sebagai praktisi pendidikan, menyatakan bahwa "Kita harus melihat stunting sebagai tantangan pedagogis, bukan sebagai vonis mati terhadap masa depan intelektual seorang anak." Beliau menekankan bahwa sistem pendidikan Indonesia harus mampu mengakomodasi keragaman kapasitas kognitif siswa dengan menyediakan berbagai jalur keberhasilan yang tidak hanya terpaku pada kecerdasan logis-matematis. Intervensi gizi di sekolah yang dibarengi dengan stimulasi psikososial yang kuat dapat membantu "mengejar" ketertinggalan perkembangan otak siswa meskipun tidak seratus persen sempurna. Pendidik harus dilatih untuk mengenali potensi unik setiap siswa stunting yang mungkin unggul di bidang seni, olahraga, atau keterampilan vokasional lainnya. Fokus kita seharusnya adalah pada bagaimana memaksimalkan sisa potensi yang ada melalui pendidikan yang inklusif dan humanis.
Analisis mendalam terhadap data PISA dan hasil studi nasional menunjukkan bahwa kesenjangan IQ akibat stunting juga berkontribusi pada kesenjangan capaian literasi antar daerah di Indonesia. Daerah dengan angka stunting tinggi secara konsisten menunjukkan performa pendidikan yang lebih rendah, yang menciptakan siklus ketertinggalan yang sulit diputus. Oleh karena itu, strategi peningkatan IQ nasional harus dimulai dari intervensi kesehatan di tingkat desa yang terintegrasi dengan layanan PAUD dan Sekolah Dasar. Riset di tingkat S3 Pendidikan Dasar harus mulai mengembangkan instrumen penilaian yang lebih adil bagi anak-anak dengan latar belakang kesehatan yang kurang beruntung. Kita memerlukan kebijakan yang berorientasi pada pemerataan kualitas gizi sebagai fondasi utama pemerataan kualitas pendidikan dan kecerdasan bangsa.
Sebagai penutup dari rangkaian diskusi ini, kita harus menyadari bahwa stunting adalah masalah multidimensional yang membutuhkan solusi kolektif dari dunia pendidikan. IQ hanyalah salah satu indikator keberhasilan, sementara karakter, ketangguhan, dan keterampilan hidup juga memegang peranan penting dalam masa depan anak. Tugas kita sebagai pendidik adalah memastikan bahwa setiap anak, terlepas dari status gizi masa lalunya, mendapatkan kesempatan terbaik untuk mengembangkan diri di sekolah. Mari kita terus mendorong riset-riset yang mencari jalan keluar bagi hambatan kognitif siswa dan mengadvokasi kebijakan gizi sekolah yang lebih kuat. Dengan kesadaran yang tinggi dan aksi nyata, kita bisa meminimalkan dampak stunting terhadap kecerdasan generasi penerus Indonesia. Masa depan bangsa ini bergantung pada seberapa besar kepedulian kita terhadap kesehatan fisik dan mental anak-anak di ruang kelas hari ini.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita