Bagaimana Guru SD Bisa Menjelaskan Mukjizat Isra Mi’raj Secara Logis dan Menarik?
Menjelaskan peristiwa mukjizat seperti Isra Mi’raj kepada siswa sekolah dasar memerlukan strategi komunikasi yang cerdas agar tidak dianggap sebagai sekadar dongeng fiktif oleh nalar kritis mereka. Guru harus mampu menjembatani antara keyakinan iman dengan penjelasan yang logis namun tetap mempertahankan sisi keajaiban yang ada dalam peristiwa tersebut. Salah satu cara yang menarik adalah dengan menggunakan analogi sains modern, seperti kecepatan cahaya atau teknologi transportasi masa kini, untuk memberikan gambaran tentang kemahakuasaan Allah. Pendekatan ini bertujuan agar siswa memahami bahwa apa yang mungkin mustahil di mata manusia, sangatlah mudah bagi pencipta hukum alam itu sendiri. Pendidik perlu menciptakan suasana belajar yang interaktif, di mana siswa merasa bebas untuk bertanya dan mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka tanpa merasa dihakimi. Penjelasan yang menarik akan membuat nilai-nilai spiritual dalam Isra Mi’raj lebih mudah diterima dan diresapi oleh logika anak yang sedang berkembang.
Langkah pertama dalam menjelaskan Isra Mi’raj secara logis adalah dengan memberikan pemahaman tentang konsep ruang dan waktu dari perspektif yang sederhana namun mendalam. Guru bisa menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta waktu, sehingga bagi Allah, melipat waktu dan jarak adalah hal yang sangat masuk akal dalam skenario perjalanan Rasulullah. Penggunaan media visual seperti peta perjalanan, animasi Buraq, atau maket Masjidil Aqsa dan Masjidil Haram dapat membantu siswa memvisualisasikan perjalanan tersebut secara konkret. Selain aspek fisik, aspek emosional juga harus disentuh, misalnya dengan menjelaskan betapa sedihnya Rasulullah sebelum Isra Mi’raj sehingga Allah menghiburnya dengan perjalanan luar biasa ini. Hal ini mengajarkan siswa bahwa ketika mereka merasa sedih atau kesulitan, Allah selalu punya cara yang ajaib untuk memberikan kebahagiaan bagi mereka. Mengaitkan mukjizat dengan pengalaman hidup sehari-hari anak akan membuat narasi agama menjadi lebih hidup dan relevan bagi dunia mereka.
Seorang pakar teknologi pendidikan, Prof. Dr. Irwan Syahputra, mengemukakan bahwa "Pemanfaatan media digital dan simulasi dalam mengajarkan sejarah Islam dapat meningkatkan keterlibatan kognitif siswa secara signifikan dibandingkan metode ceramah konvensional." Beliau menekankan bahwa guru harus kreatif dalam mengemas pesan-pesan religius agar sejalan dengan karakter generasi alfa yang sangat visual dan cepat dalam menyerap informasi. Namun, di balik kecanggihan teknologi, guru tetap harus menjaga kemurnian pesan bahwa mukjizat adalah bukti nyata kenabian yang tidak bisa ditandingi oleh teknologi manapun. Penjelasan yang logis bukan berarti merasionalisasi mukjizat hingga kehilangan sisi kesuciannya, melainkan menunjukkan bahwa iman adalah puncak dari segala ilmu pengetahuan. Dengan cara ini, siswa tidak akan merasa ada pertentangan antara pelajaran agama yang mereka terima dengan pelajaran sains yang mereka pelajari di kelas lain. Sinergi antara akal dan wahyu adalah kunci utama dalam membangun intelektualitas muslim yang kokoh di sekolah dasar.
Selain penjelasan teknis, guru juga dapat menggunakan metode diskusi kasus atau problem-based learning untuk mengajak siswa berpikir kritis tentang makna di balik peristiwa tersebut. Misalnya, guru bisa bertanya, "Mengapa Allah memilih perjalanan malam, bukan siang hari?" atau "Apa yang bisa kita pelajari dari pertemuan Rasulullah dengan para nabi sebelumnya?" Diskusi semacam ini akan merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa sambil tetap berada dalam koridor keimanan yang lurus. Guru juga harus memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan pemahaman mereka melalui berbagai karya kreatif, seperti lukisan, puisi, atau drama singkat tentang Isra Mi’raj. Pendekatan yang holistik ini memastikan bahwa pesan-pesan moral seperti kesabaran, ketaatan, dan kebesaran Allah tersampaikan secara efektif ke dalam hati dan pikiran siswa. Pengajaran yang menarik adalah pengajaran yang mampu mengubah cara pandang siswa terhadap kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas.
Tantangan bagi guru SD di era modern adalah bagaimana mengemas pesan-pesan langit ke dalam bahasa bumi yang mudah dimengerti oleh anak-anak tanpa mengurangi esensinya. Isra Mi’raj adalah sumber inspirasi yang tidak pernah kering untuk digali nilai-nilainya bagi kemajuan pendidikan karakter dan spiritual di sekolah dasar. Mari kita terus belajar dan berinovasi dalam menyampaikan kebenaran agama agar ia menjadi cahaya yang membimbing langkah anak didik kita menuju masa depan yang gemilang. Seorang guru yang inspiratif adalah mereka yang mampu membuat siswa merasa jatuh cinta pada agamanya karena penjelasannya yang logis, indah, dan menyentuh jiwa. Semoga setiap usaha kita dalam mendidik generasi rabbani mendapatkan rida dan bimbingan dari Allah SWT agar mereka menjadi saksi kebenaran di masa depan. Mari kita jadikan ruang kelas sebagai tempat di mana keajaiban iman dan ketajaman nalar bertemu secara harmonis melalui kisah agung Isra Mi’raj.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita