Salah satu terobosan terbesar kurikulum ini adalah alokasi waktu khusus untuk Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Secara teori, ini adalah angin segar. Guru tidak lagi harus memaksakan integrasi nilai karakter ke dalam mata pelajaran yang padat konten secara artifisial. Ada ruang khusus untuk berkolaborasi, berdiskusi, dan memecahkan masalah nyata.
Namun, tantangan di lapangan tidak sesederhana panduan di atas kertas.
Jebakan Administratif vs. Esensi Karakter
Kritik utama yang muncul dari para praktisi dan peneliti pendidikan dasar adalah risiko P5 berubah menjadi sekadar "festival karya". Fokus seringkali tergeser pada hasil akhir—seperti pameran daur ulang atau pertunjukan seni—daripada proses reflektif siswa.
"Karakter tidak terbentuk saat pameran digelar, melainkan saat siswa berdebat menentukan ide, saat mereka belajar menghargai pendapat teman yang berbeda, dan saat mereka gagal lalu mencoba lagi."
Jika guru terjebak pada administrasi modul ajar yang rumit, maka ruang untuk dialog bermakna dengan siswa akan menyempit. Kurikulum Merdeka memberikan ruang, itu benar. Namun, apakah ruang itu cukup nyaman bagi guru untuk mendampingi proses afektif siswa, sangat bergantung pada bagaimana sekolah menerjemahkan kebebasan tersebut. Kita membutuhkan pergeseran mindset dari "menyelesaikan kurikulum" menjadi "menumbuhkan manusia."
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita