Uluran Tangan di Saat Paling Sulit
Di
saat bencana melanda dan masyarakat berada dalam kondisi sangat rentan, uluran
tangan dari sesama menjadi bentuk pertolongan pertama yang paling bermakna.
Dalam kerangka Psychological First Aid (PFA), kehadiran manusia yang
menenangkan, penuh empati, dan tidak menghakimi merupakan langkah awal untuk
membantu korban mengurangi kepanikan serta rasa takut. Relawan dan warga yang
datang dengan sikap hangat, memberikan rasa aman, serta membantu memenuhi
kebutuhan dasar seperti makanan, air, dan tempat berteduh secara langsung
berkontribusi pada stabilisasi kondisi psikologis para penyintas.
PFA
menekankan pentingnya menciptakan rasa aman (sense of safety) dan
menenangkan emosi korban di fase awal krisis. Di lokasi bencana, prinsip ini
terlihat ketika relawan mendampingi korban yang shock, berbicara dengan nada
lembut, serta membantu mereka menemukan anggota keluarga yang terpisah.
Tindakan sederhana seperti duduk menemani, memberikan selimut, atau memastikan
korban berada di lingkungan yang terlindungi dapat menurunkan kecemasan dan
membantu mereka kembali merasa terkendali dalam situasi yang serba tidak pasti.
Aspek
lain dalam PFA adalah listening with empathy dan membantu korban
mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak. Banyak penyintas membutuhkan ruang
untuk menceritakan pengalaman traumatis mereka tanpa tekanan atau paksaan.
Relawan yang mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak memaksakan nasihat, serta
menghormati perasaan korban telah menjalankan prinsip utama PFA. Pendekatan ini
membantu korban memproses pengalaman awal secara perlahan dan mencegah tekanan
psikologis berkembang lebih berat.
Seiring waktu, PFA juga
mendorong penguatan koneksi sosial dan akses terhadap dukungan lanjutan.
Relawan menghubungkan korban dengan layanan kesehatan, konselor, atau kelompok
komunitas, sekaligus mengajak mereka terlibat dalam aktivitas ringan bersama warga
lain. Dari uluran tangan yang berlandaskan pendekatan ini, tumbuh rasa harapan
dan kemampuan untuk bertahan. Dalam saat-saat paling sulit, PFA menjadikan
kepedulian bukan sekadar empati, tetapi intervensi nyata yang membantu manusia
kembali berdiri secara mental dan emosional.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita