Trauma Healing Pasca Bencana: Peran Guru Bimbingan Konseling
Sumber:
Gemini AI
Bencana
meninggalkan jejak yang bukan hanya fisik tetapi juga psikis. Anak-anak sebagai
kelompok rentan sering mengalami trauma berupa kecemasan berlebih, mimpi buruk,
gangguan tidur, penarikan diri, atau regresi perilaku setelah bencana. Trauma
ini dapat menghambat proses belajar, interaksi sosial, dan perkembangan
emosional jangka panjang jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu,
langkah cepat dan berkesinambungan untuk pemulihan psikologis trauma
healing menjadi krusial. Di sinilah peran guru Bimbingan dan Konseling (BK)
menjadi sangat penting karena mereka berada di garis depan lingkungan sekolah
yang familiar bagi anak dan dapat menjadi penghubung antara kebutuhan emosional
siswa dan layanan profesional.
Guru BK harus
memiliki kemampuan untuk mengenali tanda-tanda trauma dan melakukan penapisan
awal. Identifikasi bukan sekadar mendeteksi gejala klinis, melainkan memahami
perubahan perilaku sehari-hari siswa dalam konteks pasca-bencana: penurunan
konsentrasi, penurunan prestasi, sampai ketidakmampuan mengikuti rutinitas
kelas. Dengan teknik observasi sistematis, wawancara singkat, dan pengisian
lembar pemantauan sederhana, guru BK dapat memetakan siapa saja yang
membutuhkan intervensi lebih intens. Penapisan ini memungkinkan prioritisasi
layanan agar sumber daya waktu, tenaga, dan rujukan dapat disalurkan ke siswa
yang paling rentan.
Intervensi awal
yang dapat dijalankan oleh guru BK meliputi Psychological First Aid (PFA)
dasar, kegiatan stabilisasi emosi, dan pendekatan berbasis aktivitas kreatif.
PFA menekankan pada keamanan, kenyamanan, dan pendengaran aktif; guru BK
memberikan dukungan empatik, membantu siswa mengidentifikasi kebutuhan dasar,
dan menghubungkan keluarga dengan layanan jika perlu. Kegiatan kelompok seperti
bercerita, menggambar, bermain peran, atau menulis jurnal juga efektif untuk
mengekspresikan emosi secara simbolik sehingga anak merasa didengarkan tanpa
harus memaksa verbalitas yang mungkin sulit bagi beberapa anak.
Selain intervensi
langsung, guru BK berfungsi sebagai koordinator antara sekolah, keluarga, dan
layanan eksternal puskesmas, psikolog praktik, lembaga bantuan kemanusiaan.
Koordinasi ini penting agar intervensi yang diberikan komprehensif dan tidak
duplikasi. Guru BK juga mengkomunikasikan informasi praktis kepada orang tua
mengenai tanda-tanda trauma dan teknik sederhana yang bisa dilakukan di rumah,
serta membantu mengatur rujukan ke layanan kesehatan jiwa profesional saat
gejala melebihi kapasitas sekolah. Kolaborasi lintas sektor meningkatkan
kontinuitas dukungan anak.
Kapasitas guru BK
sendiri harus dibangun melalui pelatihan berkelanjutan dan dukungan
institusional. Pelatihan trauma-informed care, PFA, teknik konseling kelompok,
serta pengelolaan stres bagi tenaga pendidik menjadi investasi utama. Selain
keterampilan teknis, guru BK perlu didukung dengan beban kerja yang realistis,
supervisi profesional, dan mekanisme rujukan yang jelas. Perhatian pada
kesejahteraan petugas juga kritis; guru yang terbakar emosi tidak efektif dalam
mendampingi siswa yang mengalami trauma.
Secara kebijakan,
sekolah perlu memasukkan trauma healing ke dalam rencana tanggap darurat dan
program pembelajaran pasca-bencana. Alokasi waktu untuk kegiatan pemulihan
psikososial, prosedur rujukan yang jelas, serta dukungan anggaran untuk materi
dan pelatihan harus dipastikan. Dalam praktiknya, peran guru BK akan lebih
optimal jika dipadukan dengan pendekatan sekolah-sebagai-komunitas memanfaatkan
teman sebaya, guru kelas, dan organisasi sekolah sehingga trauma healing
menjadi proses kolektif yang berkelanjutan, memulihkan bukan sekadar kondisi
segera, melainkan membangun kembali rasa aman dan kapasitas anak untuk belajar
dan tumbuh.
Editor: Firstlyta
Bulan