Teladan Guru, Kunci Mencetak Pemimpin Antikorupsi Masa Depan
Integritas tidak hanya ditanamkan melalui aturan,
tetapi melalui sosok yang setiap hari dilihat, ditiru, dan dihormati oleh
siswa: guru. Dalam konteks pendidikan modern, guru memiliki peran strategis
sebagai agen perubahan yang mampu membentuk budaya kejujuran, tanggung jawab,
dan antikorupsi sejak dini. Ketika guru menunjukkan konsistensi antara ucapan
dan tindakan, mereka otomatis menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman,
dan bebas dari praktik tidak etis.
Peran strategis guru ini sejalan dengan pendapat Prof.
James Davison Hunter (University of Virginia), pelopor kajian budaya moral,
yang menyatakan bahwa “character is
caught, not taught”karakter lebih banyak ditularkan lewat teladan nyata
dibanding hanya lewat ceramah. Artinya, integritas guru menjadi fondasi yang
menentukan apakah siswa akan menyerap nilai kejujuran sebagai kebiasaan atau
sekadar pengetahuan teoritis. Keteladanan dalam aspek kecil seperti disiplin,
konsistensi aturan, dan transparansi menjadi investasi besar bagi masa depan
moral siswa.
Selain itu, Lawrence Kohlberg, tokoh utama psikologi
moral, menjelaskan bahwa perkembangan moral anak sangat dipengaruhi oleh moral
modeling dan just community practices. Dalam konteks sekolah, guru yang
menerapkan keadilan dalam penilaian, memberikan ruang dialog etis, serta
bersikap terbuka dalam mengambil keputusan akan membantu siswa naik ke tahap
perkembangan moral yang lebih tinggi dari sekadar patuh aturan menjadi berpikir
etis secara mandiri. Guru, dengan demikian, tidak hanya menyampaikan materi, tetapi
juga membangun struktur berpikir moral pada peserta didik.
Lebih jauh, Nel Noddings, pakar pendidikan dari
Stanford University, menekankan bahwa integritas tumbuh dari hubungan pedagogis
yang dibangun melalui kepedulian. Ia menegaskan bahwa “caring is the root of ethical behavior.” Ketika guru menunjukkan
kepedulian tulus pada siswa, mereka membangun iklim kelas yang membuat siswa
berani jujur, bertanggung jawab, dan tidak takut mengakui kesalahan. Lingkungan
yang penuh empati ini terbukti menjadi salah satu faktor yang paling efektif
dalam mencegah perilaku manipulatif maupun kecenderungan koruptif di sekolah.
Agar integritas benar-benar menjadi budaya, guru perlu
mengambil langkah konkret seperti menerapkan transparansi penilaian, melibatkan
siswa dalam penyusunan aturan kelas, membangun dialog moral mingguan, serta
menolak segala bentuk gratifikasi kecil yang sering dianggap wajar. Ketika guru
secara konsisten memperlihatkan bahwa integritas bukan slogan, melainkan
tindakan nyata, maka budaya sekolah pun akan terbentuk. Pada akhirnya, sekolah
yang bersih dari korupsi dimulai dari pribadi-pribadi pendidik yang berkomitmen
menjaga nilai moral dalam setiap langkahnya.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI