Telaah Kritis Dokumen Kurikulum SD: Sejauh Mana Pendidikan HAM Terserap?
Telaah kritis terhadap dokumen kurikulum resmi SD diperlukan
untuk memverifikasi secara formal apakah mandat konstitusional dan komitmen
negara terhadap Pendidikan HAM telah diterjemahkan dengan baik ke dalam pedoman
pendidikan yang berlaku. Telaah ini sangat penting karena dokumen kurikulum
bertindak sebagai blueprint yang menentukan apa yang diajarkan, kapan
diajarkan, dan bagaimana capaian pembelajaran dinilai.
Objek dan fokus telaah ini mencakup berbagai komponen
dokumen kurikulum, termasuk Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan
yang terbaru, Capaian Pembelajaran (CP) untuk jenjang SD. Analisis difokuskan
pada unit-unit pembelajaran yang memiliki potensi kuat untuk memuat nilai-nilai
HAM, seperti unit tentang keadilan sosial, hak anak, dan toleransi.
Kriteria penyerapan HAM ditetapkan berdasarkan frekuensi
kemunculan istilah-istilah kunci seperti hak, kewajiban, kemanusiaan,
perlindungan, dan kesetaraan, serta seberapa jelas frasa-frasa tersebut
terintegrasi dalam tujuan pembelajaran. Skala penilaian digunakan untuk
membedakan antara tujuan yang hanya menyebutkan nilai moral umum dan tujuan
yang secara eksplisit menyebutkan prinsip-prinsip HAM.
Hasil kritis per bab atau unit menunjukkan adanya penyerapan
yang tidak merata. Unit-unit yang membahas Pancasila dan norma-norma sosial
memiliki penyerapan HAM yang tinggi. Namun, unit-unit yang berpotensi membahas
hak-hak minoritas, Hak Partisipasi, atau isu HAM Lingkungan seringkali memiliki
penyerapan yang lemah atau disajikan secara samar-samar.
Interpretasi kesenjangan menunjukkan bahwa penyerapan HAM
yang kurang merata tersebut disebabkan oleh kecenderungan untuk memprioritaskan
HAM yang bersifat normatif dan sudah familiar (Hak Pendidikan, Hak Hidup)
dibandingkan HAM yang bersifat prosedural dan sensitif (Hak Berekspresi, Hak
Perlindungan dari Disiplin Keras). Selain itu, terdapat kekhawatiran dari
pembuat kurikulum untuk memasukkan isu-isu HAM yang dianggap terlalu
"politis" bagi anak SD.
Sebagai saran pengembangan kurikulum, direkomendasikan agar
dokumen kurikulum secara eksplisit memasukkan frasa yang berbasis HAM dalam
setiap Capaian Pembelajaran yang relevan. Misalnya, bukan hanya “mampu bekerja
sama,” tetapi “mampu bekerja sama dan menghormati hak setiap individu untuk
berkontribusi.” Hal ini akan memaksa guru dan penulis buku teks untuk
memperkuat konten HAM yang eksplisit.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI