Tantangan Pembelajaran Multikultural Dibahas di Hari Guru
Peringatan Hari Guru 2025 turut menjadi ruang dialog nasional mengenai tantangan pembelajaran multikultural di sekolah-sekolah Indonesia. Guru mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama adalah kemampuan mengelola perbedaan tanpa menimbulkan konflik. Di beberapa sekolah, stereotip dan prasangka masih muncul dalam bentuk candaan, dinamika kelompok, hingga perbedaan preferensi belajar. Tanpa kepekaan multikultural yang kuat, guru berisiko mengabaikan situasi yang sebenarnya memerlukan pendekatan pedagogis yang lebih sensitif. Karena itu, guru menilai pentingnya pelatihan profesional yang lebih mendalam untuk membekali mereka dengan strategi konkret dalam mengelola keberagaman.
Menurut Prof. Elise von Brück (2025) dari University of Vienna, Austria, pembelajaran multikultural yang efektif menuntut guru tidak hanya memahami perbedaan budaya, tetapi juga mampu menciptakan dialog yang aman di kelas. Ia menjelaskan bahwa guru harus memiliki keterampilan untuk merespons isu identitas dengan empati, sekaligus mampu membangun jembatan komunikasi antar siswa. Von Brück menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran multikultural sangat bergantung pada peran guru sebagai fasilitator toleransi dan pemecah masalah.
Sementara itu, Dr. Damien Laurent (2025) dari Université de Genève, Swiss, menyoroti bahwa tantangan multikultural pada generasi muda kini semakin dipengaruhi oleh media digital. Ia menyebut bahwa siswa membawa perspektif dari internet yang kadang penuh bias atau polarisasi ke dalam lingkungan sekolah. Karena itu, guru membutuhkan kemampuan literasi digital dan dialog kritis agar dapat membimbing siswa memahami perbedaan secara rasional dan menghargai keragaman tanpa konflik. “Guru harus menjadi penyeimbang antara dunia maya dan realitas sosial,” ujarnya.
Di Indonesia, guru berharap pembelajaran multikultural dapat diintegrasikan secara lebih kuat dalam kurikulum, bukan hanya melalui kegiatan seremonial atau materi tambahan. Penguatan ini mencakup penyediaan modul belajar, contoh kasus, media interaktif, hingga forum lintas sekolah yang mendorong siswa untuk saling memahami budaya satu sama lain. Selain itu, guru meminta dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan berbasis praktik agar mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya di kelas nyata.
Refleksi Hari Guru 2025 menegaskan bahwa pembelajaran multikultural adalah kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya dinamika sosial dan globalisasi. Guru berperan penting dalam menumbuhkan toleransi, empati, dan rasa saling menghargai sejak dini. Dengan dukungan pelatihan, kebijakan, dan kolaborasi sekolah yang lebih kuat, guru Indonesia diyakini mampu menjadi garda terdepan dalam membangun generasi yang terbuka, inklusif, dan siap hidup dalam keberagaman.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI