Tantangan dan Solusi Implementasi Kurikulum Pendidikan HAM di SD Pedesaan
Implementasi Kurikulum Pendidikan HAM di Sekolah Dasar (SD)
pedesaan menghadapi serangkaian tantangan unik, termasuk keterbatasan sumber
daya, hambatan geografis, isolasi informasi, dan pengaruh kuat faktor budaya
lokal yang konservatif terhadap konsep HAM tertentu.
Metode penelitian yang efektif adalah studi kasus kualitatif
di beberapa SD pedesaan. Fokus analisis mencakup tiga aspek: ketersediaan
materi ajar, kapasitas pedagogis guru setempat, dan pengaruh nilai adat atau
konservatif terhadap topik sensitif HAM seperti kesetaraan gender atau hak
berekspresi.
Analisis ketersediaan sumber daya menunjukkan bahwa materi
pengayaan HAM dan media interaktif seringkali terpusat di kota. Guru pedesaan
kesulitan menyesuaikan materi yang berorientasi pada isu perkotaan (misalnya,
hak atas transportasi publik) dengan konteks mereka (misalnya, hak atas air
bersih).
Tantangan kapasitas guru sangat besar, sebab akses mereka ke
pelatihan HAM spesifik terbatas. Selain itu, terdapat gesekan ketika konsep HAM
(misalnya, Hak Partisipasi Anak) bertentangan dengan struktur otoritas lokal
atau adat, membuat guru enggan mengajarkan konsep tersebut secara eksplisit.
Solusi berbasis komunitas sangat penting. Materi HAM perlu
dimodifikasi agar relevan dengan kearifan lokal (misalnya, menghubungkan HAM
dengan konsep gotong royong). Kemitraan dengan tokoh adat dan orang tua harus
dibangun untuk menjamin bahwa prinsip universal HAM tidak dianggap sebagai
nilai yang menggerus budaya.
Sebagai kesimpulan dan rekomendasi kebijakan, diperlukan
kebijakan afirmatif yang memastikan pemerataan akses pelatihan HAM dan sumber
daya ajar ke SD pedesaan. Diperlukan juga modul pelatihan HAM yang secara
spesifik membahas strategi kontekstualisasi dan negosiasi budaya bagi guru
pedesaan.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI