Studi Longitudinal: Perkembangan Pemahaman HAM Siswa SD dari Kelas 1 hingga Kelas 6
Pemahaman Hak Asasi Manusia pada anak berkembang secara
bertahap sejalan dengan perkembangan kognitif, moral, dan psikososial mereka.
Studi longitudinal diperlukan untuk memetakan bagaimana konsep-konsep HAM
sederhana yang ditanamkan di Kelas 1 berkembang menjadi pemahaman yang lebih
kompleks, bernuansa, dan abstrak di Kelas 6.
Studi ini menggunakan desain longitudinal, melacak kohort
siswa yang sama selama enam tahun masa pendidikan SD mereka. Pengukuran
dilakukan setiap dua tahun, menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan
tahapan perkembangan kognitif anak, dari tahap pemikiran konkret (Kelas 1-3) ke
tahap pemikiran operasional (Kelas 4-6).
Pada fase awal (Kelas 1-3), pemahaman HAM siswa sangat
konkret, egosentris, dan terpusat pada hak-hak fisik (Hak Perlindungan, Hak
atas Keamanan, Hak Milik). Mereka cenderung memahami kewajiban sebagai
kepatuhan langsung kepada orang dewasa atau aturan sekolah untuk menghindari
hukuman.
Di fase tengah dan pematangan (Kelas 4-6), pemahaman
bergeser menjadi lebih bernuansa, di mana siswa mulai mampu mengaitkan hak
individu dengan tanggung jawab sosial (misalnya, memahami hak orang lain atas
lingkungan bersih). Mereka juga mulai mampu mengidentifikasi isu
non-diskriminasi berdasarkan perbedaan yang tidak tampak secara fisik.
Titik kritis dalam pengembangan pemahaman adalah transisi
dari Kelas 3 ke Kelas 4, yang merupakan periode peningkatan kemampuan decentering
(kemampuan melihat dari perspektif orang lain). Kurikulum harus memanfaatkan
periode ini untuk memperkenalkan konsep abstrak seperti keadilan dan kesetaraan
melalui studi kasus multi-perspektif.
Studi longitudinal ini memberikan bukti kuat untuk menata
urutan materi HAM secara spiral dan progresif. Kurikulum SD harus dirancang
agar secara sengaja memanfaatkan perkembangan kognitif alami anak untuk
memastikan pemahaman HAM yang mendalam dan berkelanjutan, bukan hanya
pengenalan yang terputus-putus.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI