Studi Kasus: Praktik Terbaik Mengajar Toleransi dan Keberagaman di SD melalui Kurikulum
Penanaman toleransi, khususnya terhadap perbedaan agama,
suku, dan pandangan, adalah mandat HAM dan esensial bagi kerukunan sosial.
Studi kasus ini bertujuan mendokumentasikan praktik terbaik yang berhasil
menanamkan nilai toleransi dan apresiasi keberagaman di sekolah-sekolah yang
berhasil.
Metodologi studi kasus dapat berupa pendekatan jamak, yaitu
analisis mendalam terhadap beberapa sekolah yang diakui memiliki iklim
toleransi tinggi (sekolah inklusif atau multikultural). Data dikumpulkan
melalui observasi kelas, wawancara dengan siswa/guru/kepala sekolah, dan
analisis artefak pembelajaran, termasuk kebijakan sekolah.
Praktik terbaik dalam kurikulum formal meliputi integrasi
tema keberagaman secara multi-disiplin: penggunaan cerita fiksi dari berbagai
budaya di Bahasa Indonesia, dan penggunaan data demografi di Matematika untuk
mengajarkan keberagaman sebagai fakta positif.
Praktik terbaik dalam kurikulum tersembunyi terbukti menjadi
kunci sukses. Hal ini mencakup Kebijakan Nol Toleransi terhadap semua bentuk
diskriminasi, konsistensi role model guru dalam berinteraksi dengan orang yang
berbeda latar belakang, dan adanya mekanisme peer counseling yang inklusif.
Faktor keberhasilan utama adalah komitmen pimpinan sekolah
dalam menjadikan toleransi sebagai nilai inti yang dihidupkan dalam setiap
interaksi dan keputusan. Keberhasilan juga didukung keterlibatan komunitas
dalam kegiatan sekolah yang bersifat inklusif.
Sebagai kesimpulan, praktik terbaik adalah kombinasi antara
desain kurikulum yang sensitif HAM dan lingkungan sekolah yang suportif dan
konsisten. Model praktik ini dapat direplikasi melalui penyediaan *toolkit*
bagi sekolah yang ingin meningkatkan budaya toleransi mereka.