Studi Evaluatif: Persepsi Siswa SD terhadap Pentingnya Belajar Hak dan Kewajiban
Evaluasi kurikulum HAM yang komprehensif harus mencakup
perspektif siswa sebagai subjek utama pendidikan. Studi ini bertujuan
mengeksplorasi dan mendokumentasikan persepsi siswa SD sendiri mengenai
relevansi, kegunaan, dan pentingnya materi tentang hak dan kewajiban yang
mereka pelajari di sekolah.
Metode penelitian kualitatif melalui Focus Group Discussions
(FGD) dan kuesioner terbuka digunakan untuk menangkap pandangan yang tidak
hanya normatif. Pertanyaan difokuskan pada pemahaman mereka tentang kegunaan
materi HAM dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di
sekolah, maupun di lingkungan bermain.
Sebagian besar siswa mempersepsikan pembelajaran hak
(khususnya Hak Mendapat Perlindungan dan Hak Belajar) sangat penting karena
membantu mereka merasa aman, tahu cara meminta bantuan, dan menetapkan batas
dengan orang lain. Mereka melihat hak sebagai alat perlindungan diri dan alat
untuk mengkomunikasikan kebutuhan mereka.
Persepsi terhadap kewajiban lebih variatif; siswa cenderung
melihat kewajiban (seperti membuang sampah, menghormati guru, mengerjakan PR)
sebagai aturan sekolah yang harus dipatuhi untuk menghindari sanksi, daripada
sebagai tindakan yang saling terkait dengan hak orang lain (tanggung jawab
sosial).
Analisis relevansi materi menunjukkan bahwa siswa melaporkan
bahwa materi yang paling relevan adalah yang langsung berhubungan dengan
konflik harian mereka (misalnya, berbagi, antri, bullying). Materi yang
dianggap kurang penting atau abstrak adalah yang terlalu jauh dari konteks
kehidupan anak-anak, seperti isu politik global.
Persepsi siswa menegaskan bahwa kurikulum HAM yang efektif
haruslah student-centered (berpusat pada anak), menggunakan bahasa yang
sangat kontekstual, dan berfokus pada hak-hak yang paling dekat dengan
pengalaman emosional dan fisik mereka. Rekomendasi mencakup penyesuaian materi
agar lebih praktis dan berorientasi pada pemecahan masalah.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI