Sinergi Komunitas Lokal dan Sekolah dalam Edukasi Mitigasi
Pendidikan mitigasi di sekolah dasar akan memiliki dampak yang jauh lebih luas dan berkelanjutan jika mampu bersinergi secara harmonis dengan komunitas lokal di sekitarnya. Komunitas lokal, termasuk tokoh masyarakat, relawan bencana, dan perangkat desa, memiliki pemahaman mendalam tentang sejarah bencana dan karakteristik lingkungan yang tidak selalu tercatat di buku teks. Sekolah dapat membuka diri dengan mengundang para ahli lokal atau penyintas bencana untuk berbagi pengalaman nyata di depan para siswa dalam sesi kelas inspirasi. Kolaborasi ini membantu siswa memahami bahwa mitigasi bencana bukan sekadar materi pelajaran, melainkan sebuah kebutuhan nyata dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Di sisi lain, sekolah dapat berperan sebagai pusat penyebaran informasi ilmiah bagi komunitas lokal melalui kegiatan pameran karya siswa tentang mitigasi bencana alam. Sinergi yang kuat akan menciptakan ekosistem kesiapsiagaan di mana sekolah dan warga sekitar saling menjaga dan memberikan peringatan dini jika tanda-tanda bahaya muncul. Hubungan timbal balik ini akan memperkuat modal sosial masyarakat dalam menghadapi situasi darurat yang mungkin terjadi di masa depan secara kolektif.
Integrasi antara pengetahuan akademis sekolah dan kearifan lokal komunitas terwujud dalam bentuk kegiatan simulasi bersama yang melibatkan warga di sekitar lingkungan sekolah dasar. Saat sirine tanda bahaya berbunyi, tidak hanya siswa yang bergerak menuju titik kumpul, tetapi juga para pedagang, penduduk rumah sekitar, dan pengendara yang melintas. Hal ini penting agar saat bencana yang sesungguhnya terjadi, tidak terjadi benturan arus evakuasi yang dapat membahayakan keselamatan anak-anak sekolah yang lebih rentan. Komunitas lokal juga dapat membantu sekolah dalam pemeliharaan sarana mitigasi, seperti memastikan jalur evakuasi tidak tertutup oleh tumpukan barang atau parkir kendaraan yang tidak teratur. Guru dapat memberikan tugas proyek kepada siswa untuk mewawancarai sesepuh desa tentang tanda-tanda alam yang mereka percayai sebagai isyarat akan datangnya perubahan cuaca ekstrem. Data dari lapangan ini kemudian didiskusikan di kelas untuk dicari penjelasan ilmiahnya, sehingga tercipta dialog yang memperkaya khazanah pengetahuan siswa. Kerjasama yang terjalin erat ini membuktikan bahwa pendidikan bencana adalah tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat, bukan hanya tugas guru di sekolah.
Praktisi pemberdayaan masyarakat, Ibu Butet Manurung, menekankan bahwa pendidikan yang paling bermakna adalah pendidikan yang berakar kuat pada realitas sosial dan lingkungan di mana anak tersebut tumbuh. Beliau menyatakan, "Sekolah harus menjadi jantung dari komunitasnya; ketika sekolah dan warga bersatu dalam literasi bencana, maka ketangguhan yang terbentuk akan bersifat alami dan tahan lama." Pernyataan ini memberikan inspirasi bagi para kepala sekolah dasar untuk lebih aktif menjalin kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan dalam program-program pengurangan risiko bencana. Melalui kolaborasi ini, keterbatasan sumber daya yang dimiliki sekolah dapat ditutupi oleh partisipasi aktif dan sumber daya yang ada di komunitas lokal tersebut. Selain itu, sinergi ini juga mampu meredam kepanikan massal karena setiap individu sudah mengetahui peran dan fungsinya masing-masing dalam skema penyelamatan yang telah disepakati bersama. Masyarakat yang terdidik secara kolektif akan memiliki peluang bertahan hidup yang jauh lebih tinggi saat menghadapi cobaan alam yang berat.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita