Sinergi antara Kurikulum Formal dan Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum) dalam Pendidikan HAM SD
Kurikulum Formal (materi tertulis) dan Kurikulum Tersembunyi
(Hidden Curriculum, yaitu norma dan praktik yang tidak tertulis) harus
bersinergi untuk menjamin efektivitas Pendidikan HAM. Seringkali, kontradiksi
antara keduanya merusak pesan HAM yang diajarkan di kelas.
Analisis ini menggunakan observasi dan wawancara untuk
mengidentifikasi kontradiksi antara pesan Kurikulum Formal tentang HAM dan
praktik Kurikulum Tersembunyi. Contoh kontradiksi adalah ketika guru
mengajarkan Hak Partisipasi di kelas, tetapi menerapkan aturan yang otoriter
dan tidak dapat diganggu gugat.
Temuan menunjukkan bahwa kontradiksi sering terjadi pada isu
disiplin, pengambilan keputusan, dan perlakuan terhadap kesalahan. Ketika
Kurikulum Formal mengajarkan keadilan, tetapi Kurikulum Tersembunyi menerapkan
hukuman fisik/verbal, siswa akan memprioritaskan pelajaran dari Kurikulum
Tersembunyi (kekuasaan mengalahkan prinsip).
Kurikulum Tersembunyi yang negatif memiliki dampak yang jauh
lebih merusak daripada Kurikulum Formal yang buruk. Pelanggaran hak yang
dilakukan oleh guru atau staf sekolah secara tidak sengaja mengajarkan siswa
bahwa hirarki kekuasaan lebih penting daripada prinsip HAM.
Sinergi positif terjadi ketika guru dan staf sekolah secara
sadar menjadi model praktik HAM. Contohnya, guru secara terbuka meminta maaf
atas kesalahan (Hak Koreksi) atau menyelesaikan perselisihan antar-siswa secara
transparan dan adil.
Pendidikan HAM yang berhasil memerlukan upaya sadar untuk
menyelaraskan kedua kurikulum. Rekomendasi utama adalah investasi pada
perubahan Budaya Sekolah, di mana pelatihan HAM untuk guru dan staf harus
berfokus pada role modeling dan praktik disiplin positif berbasis hak.
Author: Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI