Sekolah, Relawan, dan Warga Bersatu Pulihkan Trauma
Pascabencana,
dampak psikologis sering kali dirasakan lebih lama dibandingkan kerusakan
fisik. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan mengalami ketakutan,
kecemasan, dan kehilangan rasa aman. Dalam situasi ini, kolaborasi antara
sekolah, relawan, dan warga setempat menjadi kunci untuk membantu memulihkan
trauma serta mengembalikan rutinitas yang menenangkan bagi para siswa.
Sekolah
berperan sebagai ruang aman sementara yang menyediakan kegiatan belajar
darurat, bermain, dan konseling sederhana. Guru-guru, dengan dukungan tenaga
pendamping dari relawan, merancang aktivitas kreatif seperti menggambar,
bercerita, dan permainan kelompok untuk menyalurkan emosi anak-anak. Lingkungan
yang ramah dan suportif ini membantu mereka perlahan kembali merasa nyaman.
Relawan
dari berbagai latar belakang, termasuk psikolog, mahasiswa, dan komunitas
sosial, melengkapi peran sekolah melalui layanan dukungan psikososial. Mereka
memberikan pendampingan kepada anak dan orang tua, mengajarkan teknik relaksasi
sederhana, serta membantu mengenali tanda-tanda trauma yang memerlukan
penanganan lanjutan. Pendekatan berbasis empati ini memperkuat daya lenting
mental masyarakat.
Di
sisi lain, warga sekitar turut menciptakan suasana kondusif dengan menjaga
keamanan lingkungan, membangun kembali fasilitas belajar, serta saling
menguatkan antar keluarga. Orang tua dilibatkan dalam proses pemulihan agar
dapat mendampingi anak-anak di rumah dengan lebih baik. Sinergi ini menjadikan
pemulihan trauma sebagai tanggung jawab kolektif, bukan hanya tugas satu pihak.
Ketika sekolah, relawan, dan warga bersatu, proses penyembuhan berjalan lebih cepat dan menyeluruh. Anak-anak kembali tersenyum, rutinitas perlahan pulih, dan rasa percaya terhadap masa depan tumbuh kembali. Kolaborasi lintas elemen ini membuktikan bahwa kebersamaan adalah obat paling kuat dalam menghadapi luka batin pascabencana.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita