Sekolah Aman Bencana (SAB): Standar Ideal untuk Satuan Pendidikan Dasar
Implementasi program Sekolah Aman Bencana (SAB) merupakan langkah strategis yang harus diprioritaskan oleh setiap satuan pendidikan dasar untuk menjamin keselamatan seluruh warga sekolah dari ancaman fenomena alam. Standar ideal SAB tidak hanya terbatas pada kekuatan fisik bangunan yang tahan gempa, tetapi juga mencakup kesiapan sistem manajemen darurat yang terintegrasi secara menyeluruh. Sebuah sekolah dasar dapat dikatakan ideal jika memiliki dokumen rencana kontinjensi yang mutakhir dan dipahami oleh seluruh staf pengajar, tenaga kependidikan, hingga penjaga sekolah. Selain itu, fasilitas fisik seperti jalur evakuasi yang bebas hambatan, titik kumpul yang luas, serta rambu-berambu peringatan yang jelas harus tersedia di setiap sudut strategis bangunan. Penempatan perabot kelas juga harus diperhatikan agar tidak menghalangi ruang gerak siswa saat terjadi guncangan mendadak yang memerlukan respons cepat. Sekolah juga wajib melakukan audit keselamatan secara berkala bersama instansi terkait untuk memastikan bahwa seluruh instrumen mitigasi berfungsi dengan optimal tanpa pengecualian. Dengan terpenuhinya standar ini, sekolah bukan hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi tempat perlindungan yang paling aman bagi anak-anak.
Di sisi lain, aspek non-struktural dalam SAB memegang peranan yang sama pentingnya dalam membangun budaya siaga yang berkelanjutan di lingkungan sekolah dasar. Hal ini mencakup pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah yang melibatkan partisipasi aktif dari perwakilan siswa, guru, dan orang tua murid secara kolaboratif. Pelatihan peningkatan kapasitas bagi guru dalam menyampaikan materi kebencanaan serta keterampilan pertolongan pertama harus dilakukan secara kontinu agar pengetahuan mereka selalu relevan. Standar ideal SAB juga menuntut adanya simulasi evakuasi mandiri yang dilakukan minimal dua kali dalam satu semester untuk melatih kesiapan mental siswa. Kurikulum pendidikan bencana harus disisipkan secara kreatif ke dalam mata pelajaran yang ada tanpa membebani beban belajar siswa yang sudah cukup padat. Melalui pendekatan yang holistik ini, kesadaran akan risiko bencana akan tumbuh menjadi perilaku otomatis yang melekat pada setiap individu di sekolah. Sinergi antara infrastruktur yang kokoh dan sumber daya manusia yang kompeten adalah kunci utama dalam mewujudkan satuan pendidikan yang tangguh bencana di Indonesia.
Menurut Dr. Harkunti P. Rahayu, seorang pakar manajemen risiko bencana nasional, sekolah adalah aset krusial yang harus memiliki standar proteksi tertinggi karena di dalamnya terdapat generasi masa depan bangsa. Beliau menyatakan, "Sekolah Aman Bencana bukan sekadar label administratif, melainkan sebuah komitmen moral negara untuk memberikan rasa aman yang mutlak bagi anak-anak saat mereka sedang belajar." Pernyataan ini menegaskan bahwa investasi pada keamanan infrastruktur pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk meminimalisir potensi kerugian sumber daya manusia akibat bencana. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan regulasi dan pendanaan yang cukup agar setiap SD mampu mencapai standar SAB yang telah ditetapkan secara nasional. Tanpa standar yang jelas, upaya mitigasi di sekolah hanya akan bersifat sporadis dan kurang memberikan dampak perlindungan yang nyata bagi siswa. Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum ini untuk mengevaluasi kembali sejauh mana sekolah kita telah memenuhi kriteria keamanan yang ideal tersebut.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita