SEJARAH HARI GURU DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN NASIONAL
Sumber gambar: pinterest
Hari Guru Nasional memiliki perjalanan sejarah yang erat kaitannya dengan perkembangan pendidikan Indonesia. Setelah kemerdekaan, pemerintah menyadari bahwa membangun bangsa tidak hanya melalui politik dan ekonomi, tetapi melalui pendidikan sebagai fondasi utama. Para guru kemudian berperan sebagai agen pemersatu bangsa melalui sekolah dan proses pembelajaran.
Sejak berdirinya PGRI pada tahun 1945, profesi guru semakin memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan nasional. PGRI tidak hanya memperjuangkan hak guru, tetapi juga memastikan standar profesionalisme dan kualitas pendidikan terus meningkat. Melalui organisasi ini, guru memiliki saluran komunikasi untuk memperjuangkan kebijakan pendidikan yang berpihak pada peserta didik dan pengembangan sumber daya manusia nasional.
Peringatan Hari Guru kemudian ditetapkan secara resmi pada tahun 1994. Keputusan ini menjadi tonggak penting dalam memberikan identitas nasional bagi guru Indonesia. Hari Guru bukan sekadar momen formal, tetapi menjadi sarana apresiasi dan penyadaran akan besarnya kontribusi guru dalam pembangunan nasional. Ini sejalan dengan nilai-nilai luhur Pancasila dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam konteks modern, Hari Guru memberikan ruang bagi evaluasi sistem pendidikan, termasuk kesejahteraan guru, pemerataan akses pendidikan, dan kualitas pembelajaran. Masyarakat mulai menyadari bahwa guru bukan hanya pekerjaan, tetapi panggilan pengabdian yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan dedikasi tinggi.
Pada akhirnya, Hari Guru mengajarkan masyarakat bahwa pendidikan bukan sekadar proses akademik, tetapi perjalanan kemanusiaan. Guru adalah penanda sejarah bangsa: mereka membangun masa depan melalui generasi yang mereka didik. Dengan peringatan Hari Guru, bangsa Indonesia diingatkan bahwa tanpa guru, tidak ada ilmu, tidak ada peradaban, dan tidak ada kemajuan bangsa.
Author: Adinda Budi Julianti
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI