Saksi Hidup Trikora: Kesaksian Veteran Menguatkan Dimensi Sipil Bela Negara
Dalam sebuah acara
seminar nasional, para veteran dan saksi hidup Operasi Trikora memberikan
kesaksian yang mengharukan dan informatif. Kisah-kisah mereka memperkuat
dimensi sipil dari konsep Bela Negara selama perjuangan merebut Irian Barat.
Kesaksian ini melengkapi narasi resmi yang seringkali didominasi oleh sudut
pandang militer. Pemerintah dan peneliti aktif mendokumentasikan memori
kolektif para saksi sejarah ini. Kisah-kisah ini sangat berharga untuk
rekonstruksi sejarah.
Salah satu veteran,
Ibu Siti Rahayu (92 tahun), menceritakan perannya sebagai perawat sukarela di
garis belakang yang sangat berisiko. Ia dan kelompoknya memastikan para pejuang
yang terluka mendapatkan perawatan medis yang layak dan aman. Akses logistik
medis yang sulit menuntut kreativitas dan pengorbanan yang luar biasa. Peran
perempuan dalam Trikora seringkali terpinggirkan dalam narasi utama.
Kesaksiannya adalah bentuk penghormatan bagi para pahlawan tanpa tanda jasa.
Veteran lain, Bapak
Markus Wenda (88 tahun) dari Papua, berbagi pengalamannya sebagai pemandu lokal
dan intelijen rakyat. Pengetahuannya tentang medan dan budaya lokal menjadi
aset yang tidak ternilai bagi Komando Mandala. Tanpa bantuan masyarakat lokal,
operasi infiltrasi dan gerilya akan jauh lebih sulit dilakukan. Kesetiaan dan
keberanian masyarakat Papua adalah inti dari Bela Negara di garis depan.
Kontribusi mereka adalah bukti nyata dari persatuan nasional.
Kesaksian para saksi
hidup ini menunjukkan bahwa Bela Negara pada masa Trikora adalah pilihan moral
yang sukarela. Rasa tanggung jawab terhadap kedaulatan negara melebihi rasa
takut akan ancaman. Mereka tidak hanya menjalankan perintah, tetapi bertindak
berdasarkan panggilan hati nurani kebangsaan. Kisah-kisah ini menjadi antitesis
terhadap pandangan bahwa sejarah hanya milik para elite. Semangat pengorbanan
ini patut dicontoh oleh generasi sekarang.
Sejarawan
menggarisbawahi pentingnya kesaksian ini untuk rekonstruksi narasi yang lebih
humanis dan holistik. Narasi yang direkonstruksi harus mencerminkan
penderitaan, harapan, dan tekad rakyat biasa. Mendokumentasikan kesaksian
mereka adalah perlombaan melawan waktu mengingat usia para veteran yang semakin
lanjut. Program Oral History harus diintensifkan di seluruh wilayah bekas
operasi Trikora. Ini adalah cara paling otentik untuk memahami sejarah.
Pemerintah Daerah di
seluruh Indonesia didorong untuk menyelenggarakan acara serupa secara reguler.
Memberikan ruang bagi para veteran untuk berbagi kisah adalah bentuk apresiasi
dan edukasi publik. Sekolah dan universitas dapat menggunakan rekaman kesaksian
ini sebagai bahan ajar yang inspiratif. Narasi yang diperkaya dengan kisah
personal akan lebih mudah diterima oleh generasi muda. Warisan spiritual
Trikora harus tetap hidup.
Semangat yang dicerminkan dalam kesaksian ini adalah fondasi dari implementasi Bela Negara modern. Kontribusi setiap warga negara, apapun profesinya, adalah penting bagi ketahanan nasional. Perawat, pemandu lokal, atau pelajar, semuanya memiliki peran dalam membela negara. Kisah-kisah heroik ini harus diabadikan dalam bentuk monumen dan museum digital. Mari kita jaga api semangat Trikora agar tidak pernah padam.