Role Playing: Bermain Peran Menjadi Tim Penyelamat saat Simulasi Gempa
Metode role playing atau bermain peran kini menjadi primadona dalam pengajaran mitigasi bencana karena mampu menghadirkan pengalaman kinestetik bagi siswa sekolah dasar. Dalam simulasi gempa bumi, siswa tidak hanya diminta untuk bersembunyi di bawah meja, tetapi juga diberikan peran spesifik seperti tim medis, tim evakuasi, hingga komunikator darurat. Pendekatan ini bertujuan untuk menanamkan rasa tanggung jawab serta melatih koordinasi antar siswa saat situasi krisis terjadi di lingkungan sekolah. Dengan membagi peran, siswa belajar bahwa keselamatan kelompok bergantung pada kerja sama tim yang solid dan komunikasi yang jelas. Guru bertindak sebagai sutradara yang memastikan skenario berjalan sesuai dengan prosedur operasional standar penyelamatan diri yang berlaku secara nasional. Melalui aktivitas ini, suasana kelas yang biasanya kaku berubah menjadi laboratorium sosial yang dinamis dan sangat berkesan bagi ingatan jangka panjang anak. Setiap gerakan yang dipraktikkan secara berulang akan membentuk memori otot yang sangat berguna ketika bencana yang sesungguhnya benar-benar terjadi tanpa peringatan.
Keterlibatan emosional dalam bermain peran juga membantu siswa mengelola rasa takut secara lebih sehat karena mereka merasa memiliki kendali atas situasi tersebut. Siswa yang berperan sebagai tim penyelamat akan belajar tentang empati dan cara menenangkan teman-temannya yang sedang dalam kondisi panik simulasi. Proses ini secara tidak langsung membangun karakter kepemimpinan dan ketenangan dalam mengambil keputusan di bawah tekanan sejak usia dini. Selain itu, simulasi ini memungkinkan guru untuk mengevaluasi secara langsung bagian mana dari prosedur evakuasi yang masih sering terlupakan oleh siswa. Setiap sesi role playing biasanya diakhiri dengan diskusi reflektif di mana siswa dapat menceritakan apa yang mereka rasakan selama proses simulasi berlangsung. Hal ini penting agar aspek psikologis anak tetap terjaga dan mereka merasa lebih percaya diri menghadapi tantangan alam di masa depan. Sekolah dasar pun bertransformasi menjadi tempat persemaian generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga tangguh secara mental.
Pakar psikologi pendidikan, Dr. Farida Utami, menyatakan bahwa metode ini sangat efektif karena melibatkan seluruh panca indra anak dalam proses penyerapan informasi keselamatan. Beliau mengungkapkan, "Bermain peran adalah cara terbaik bagi anak-anak untuk memproses informasi kompleks mengenai kebencanaan tanpa merasa terintimidasi oleh beban teoritis yang berat." Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa anak usia sekolah dasar cenderung lebih cepat belajar melalui tindakan nyata daripada sekadar mendengarkan ceramah di dalam kelas. Dengan mempraktikkan cara membawa tandu atau memberikan instruksi arah evakuasi, siswa merasa bahwa ilmu yang mereka pelajari memiliki manfaat praktis yang nyata. Pengulangan skenario yang berbeda-beda setiap bulannya akan memastikan bahwa kesiapsiagaan menjadi budaya yang melekat kuat di sekolah tersebut. Pada akhirnya, role playing bukan sekadar permainan, melainkan investasi nyawa yang dibungkus dengan metode pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita