Risiko Penurunan Kualitas Udara Akibat Kebakaran Lahan
Sumber: Gemini
AI
Kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh kekeringan ekstrem menjadi
masalah tahunan yang memperburuk kualitas udara. Partikel halus hasil
pembakaran atau PM2.5 dapat terbang jauh dan menyelimuti wilayah pemukiman
penduduk yang padat. Polusi asap ini menyebabkan gangguan kesehatan pernapasan
serius bagi jutaan warga, terutama anak-anak dan lansia. Jarak pandang yang
terbatas akibat kabut asap juga seringkali mengganggu jadwal transportasi udara
dan darat. Dampak ekonomi dari kebakaran lahan ini mencakup biaya kesehatan
hingga kerugian pada sektor pariwisata.
Pelepasan karbon dalam jumlah besar saat kebakaran lahan mempercepat proses
pemanasan global di tingkat atmosfer bumi. Indonesia seringkali menjadi sorotan
internasional ketika asap kebakaran hutan mulai melintasi batas wilayah negara
tetangga. Upaya pemadaman di lahan gambut sangat sulit dilakukan karena api
seringkali menjalar di bawah permukaan tanah. Helikopter pengebom air dan
teknologi modifikasi cuaca terus dikerahkan untuk menjinakkan api di
titik-titik panas. Penegakan hukum yang tegas terhadap oknum pembakar lahan
harus dilakukan tanpa pandang bulu demi keadilan.
Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kebakaran diimbau untuk selalu
menggunakan masker medis saat beraktivitas. Pemerintah daerah wajib menyediakan
rumah singgah yang dilengkapi dengan pemurni udara bagi warga yang terdampak
asap. Edukasi mengenai bahaya membakar lahan untuk tujuan pembukaan perkebunan
baru terus disampaikan kepada para petani. Sistem peringatan dini berbasis
satelit kini digunakan untuk mendeteksi titik api sebelum kebakaran meluas
secara masif. Kesadaran untuk menjaga lahan agar tetap basah menjadi kunci
utama dalam pencegahan bencana asap.
Kerugian ekologis akibat kebakaran lahan meliputi hilangnya keanekaragaman
hayati dan rusaknya siklus air alami di hutan. Butuh waktu puluhan tahun bagi
hutan yang terbakar untuk dapat berfungsi kembali sebagai penyerap karbon
dunia. Program restorasi pasca kebakaran harus dilakukan dengan melibatkan
komunitas lokal agar hasilnya bisa lebih berkelanjutan. Penanaman pohon-pohon
endemik yang memiliki ketahanan terhadap api mulai diprioritaskan di wilayah
yang sering terbakar. Pelestarian hutan adalah investasi jangka panjang untuk
menjaga kualitas udara yang kita hirup setiap hari.
Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil sangat
diperlukan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan. Perusahaan perkebunan
diwajibkan memiliki sarana dan prasarana pemadam kebakaran yang lengkap sesuai
standar nasional yang berlaku. Desa-desa di sekitar wilayah rawan mulai
membentuk kelompok masyarakat peduli api untuk melakukan patroli rutin. Melalui
kerja keras semua pihak, angka kebakaran hutan diharapkan dapat terus ditekan
setiap tahunnya secara konsisten. Udara bersih adalah hak asasi setiap warga
negara yang harus dilindungi dari dampak buruk perubahan iklim.
Editor: Alifatul Hidayah