Resistensi Guru Kelas Reguler: Tantangan Terbesar Implementasi Kurikulum Inklusif di SD
Sumber: Gemini
AI
Sebuah survei menunjukkan bahwa resistensi dan rendahnya kepercayaan diri
guru kelas reguler menjadi tantangan terbesar dalam implementasi kebijakan
pendidikan inklusif di jenjang SD. Banyak guru merasa tidak kompeten atau tidak
siap mengajar ABK karena minimnya pelatihan Pendidikan Luar Biasa (PLB) selama
masa kuliah dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Mereka khawatir
mengganggu proses belajar siswa reguler.
Resistensi ini bukan disebabkan oleh keengganan, tetapi oleh
ketidakberdayaan profesional akibat kurangnya dukungan sistem. Guru kelas
seringkali dibebani tanggung jawab ABK tanpa dibekali pengetahuan modifikasi
kurikulum, manajemen perilaku, atau asesmen yang sesuai. Situasi ini diperparah
oleh rasio GPK yang tidak memadai, sehingga guru kelas merasa ditinggalkan.
Analis kebijakan menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan inklusif terletak
pada penguatan kompetensi guru kelas reguler. Kebijakan harus mewajibkan
integrasi modul PLB dalam kurikulum Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan PKB rutin
guru SD. Fokus pelatihan harus hands-on, mengajarkan strategi diferensiasi dan
manajemen kelas inklusif.
Solusi jangka pendek yang mendesak adalah memperkuat sistem co-teaching,
di mana GPK wajib bekerja sama secara intensif dengan guru kelas, bukan hanya
memberikan konsultasi. Selain itu, insentif finansial atau non-finansial perlu
diberikan kepada guru kelas yang secara sukarela dan berhasil
mengimplementasikan inklusif. Pengakuan ini penting untuk memotivasi.
Mengatasi resistensi guru kelas adalah investasi krusial dalam
keberlanjutan kebijakan inklusif di SD. Kebijakan harus beralih dari sekadar
menunjuk sekolah inklusif menjadi mempersiapkan guru secara mendalam agar
mereka merasa kompeten, didukung, dan termotivasi untuk melayani semua anak.
Author : Alifatul Hidayah
Editor
: Naela Zulianti Ashlah