Relawan Muda dan Perlindungan Anak: Menjaga Hak dan Keselamatan
Anak-anak adalah kelompok paling rentan saat bencana melanda. Mereka mudah terpisah dari keluarga dalam kepanikan evakuasi. Eksploitasi dan kekerasan terhadap anak meningkat dalam situasi darurat. Relawan muda terlatih bekerja memastikan perlindungan anak terjaga. Setiap anak berhak merasa aman dan terlindungi meski dalam bencana.
Ruang ramah anak didirikan di setiap posko pengungsian. Tempat ini menjadi zona aman bagi anak untuk bermain dan belajar. Relawan mengawasi agar tidak ada orang dewasa mencurigakan masuk. Mainan, buku, dan alat tulis tersedia untuk aktivitas mereka. Anak-anak menemukan kembali keceriaan di tengah trauma. Ruang ini menjadi oasis kebahagiaan di tengah kesedihan.
Identifikasi anak yang terpisah dari keluarga dilakukan segera. Relawan mencatat nama, ciri-ciri, dan informasi keluarga anak. Foto anak dibagikan di berbagai platform untuk pelacakan. Database anak hilang dicocokkan dengan laporan keluarga yang mencari. Reunifikasi menjadi prioritas utama untuk kesejahteraan anak. Setiap hari terpisah adalah siksaan bagi anak dan orang tua.
Pelatihan tentang perlindungan anak untuk semua relawan wajib dilakukan. Mereka belajar mengenali tanda-tanda pelecehan dan eksploitasi. Protokol pelaporan yang jelas jika menemukan kasus mencurigakan. Tidak ada toleransi untuk kekerasan terhadap anak dalam bentuk apapun. Budaya saling mengawasi dan melindungi ditanamkan kuat. Keselamatan anak adalah tanggung jawab bersama.
Advokasi untuk kebijakan perlindungan anak dalam penanggulangan bencana. Relawan memperjuangkan standar minimal pelayanan anak di pengungsian. Akses pendidikan, kesehatan, dan rekreasi harus terjamin untuk anak. Partisipasi anak dalam perencanaan program yang menyangkut mereka. Suara anak perlu didengar dan dihormati dalam setiap keputusan. Anak bukan hanya objek perlindungan tetapi juga subjek yang aktif.
Author & Editor: Nadia Anike Putri