Refleksi Hari Guru: Literasi Siswa Masih Rendah
Peringatan Hari Guru 2025 kembali membuka ruang refleksi besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Salah satu isu yang paling disorot adalah masih rendahnya tingkat literasi siswa di berbagai jenjang. Para guru mengakui bahwa kemampuan membaca pemahaman, berpikir kritis, dan mengekspresikan gagasan masih jauh dari ideal. “Literasi bukan sekadar bisa membaca huruf, tetapi memahami makna. Dan itu masih jadi PR besar kita,” ujar salah satu perwakilan guru dalam forum Hari Guru tahun ini.
Laporan internal sekolah dan hasil asesmen nasional juga menunjukkan adanya kesenjangan literasi antarwilayah yang cukup signifikan. Guru menyebut kurangnya waktu membaca, minimnya bahan bacaan bermutu, serta rendahnya budaya literasi di rumah sebagai faktor yang memperburuk kondisi. Tantangan ini menjadi semakin berat ketika siswa harus berhadapan dengan banjir informasi digital yang tidak terkurasi.
Ahli literasi dari Finlandia, Prof. Sanna Virtanen (2024), menilai bahwa penguatan literasi harus dimulai dari strategi membaca yang terstruktur sejak pendidikan dasar. “Siswa tidak dapat membangun literasi tingkat tinggi tanpa fondasi membaca yang kuat. Guru perlu dilatih untuk mengajarkan strategi membaca pemahaman secara eksplisit,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya perpustakaan sekolah yang aktif dan kurikulum yang mendorong eksplorasi teks beragam.
Dari Inggris, pakar budaya baca Dr. Rowan Mitchell (2023) menyampaikan bahwa literasi hanya berkembang dalam ekosistem yang mendukung kebiasaan membaca. “Anak membaca jika membaca dianggap penting di rumah, di sekolah, dan dalam masyarakat. Kebijakan literasi harus menyasar tiga ruang itu sekaligus,” ujarnya. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan orang tua adalah kunci untuk mendorong motivasi membaca siswa secara berkelanjutan.
Momentum Hari Guru 2025 menjadi panggilan bagi pemerintah dan pendidik untuk memperkuat kembali gerakan literasi nasional. Guru berharap ada peningkatan akses buku berkualitas, pelatihan literasi yang berkelanjutan, dan kebijakan sekolah yang memberi ruang membaca setiap hari. Para pendidik yakin bahwa ketika literasi siswa meningkat, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kepercayaan diri siswa pun akan tumbuh secara signifikan.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI