Protokol 10 Menit: Langkah Darurat Saat Gempa Bumi di Jam Pelajaran
Sumber:
Gemini AI
Protokol 10 menit
saat gempa di jam pelajaran dirancang untuk menyederhanakan tindakan agar
cepat, sistematis, dan mudah diingat. Tahapan inti dapat dibagi menjadi: 1)
Melindungi diri selama getaran; 2) Menilai situasi singkat; 3) Evakuasi
terencana; 4) Penanganan korban ringan; dan 5) Komunikasi ke pihak
sekolah/ortu. Kesederhanaan ini memungkinkan guru dan siswa bertindak tanpa
panik, karena setiap detik krusial saat gempa memengaruhi keselamatan. Latihan
berkala membuat protokol ini menjadi respons otomatis pada saat nyata.
Saat getaran
pertama terjadi, langkah pertama adalah “Drop, Cover, Hold” atau turun,
berlindung, dan tahan. Siswa diminta cepat turun ke lantai, berlindung di bawah
meja yang kokoh atau di samping dinding dalam, dan memegang kaki meja sampai
getaran mereda. Untuk kelas yang berada di ruang terbuka atau lab, pilih zona
aman terdekat yang diketahui sebelumnya. Guru harus memastikan bahwa instruksi
disampaikan singkat dan tegas sehingga seluruh kelas dapat bereaksi bersamaan.
Setelah getaran
berhenti, dalam waktu satu menit guru melakukan pemeriksaan cepat terhadap
kondisi ruang kelas: apakah ada retakan besar, kebocoran gas, kabel putus, atau
api. Jika kondisi ruangan dinilai aman dan bangunan stabil, guru memutuskan
apakah tetap di dalam, melakukan evakuasi tertib, atau menunggu instruksi lebih
lanjut. Namun jika ada tanda bahaya struktural, evakuasi segera ke titik kumpul
luar gedung harus dilakukan tanpa mengambil barang pribadi.
Evakuasi terencana
harus dilakukan sesuai jalur dan titik kumpul yang sudah dilatih. Guru memimpin
barisan, menghitung siswa, dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Dalam
situasi gempa susulan, titik kumpul sebaiknya berada di area terbuka jauh dari
dinding, pohon besar, dan tiang listrik. Penunjukan siswa senior atau asisten
kelas untuk membantu menghitung peserta dan membawa peralatan P3K akan
mempercepat respon dan meminimalkan kebingungan.
Penanganan korban
ringan dilakukan segera di titik kumpul: pertolongan pertama sederhana (menahan
pendarahan, immobilisasi sederhana, menghangatkan) diberi oleh tenaga terlatih
atau guru yang telah dilatih P3K. Untuk korban berat, guru segera meminta bantuan
medis eksternal dan menandai korban untuk evakuasi prioritas. Komunikasi dengan
pihak sekolah, dinas terkait, dan orang tua harus dilakukan secepat mungkin
menggunakan daftar kontak darurat yang selalu siap.
Agar protokol 10
menit efektif, sekolah harus mengadakan sosialisasi, papan instruksi visual di
kelas, serta latihan berkala yang melibatkan seluruh elemen sekolah. Simulasi
dengan skenario waktu terukur (misal latihan evakuasi 10 menit) membantu
mengidentifikasi hambatan praktis. Dengan persiapan, respons gempa di jam
pelajaran bisa menjadi terukur, efektif, dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Editor: Firstlyta
Bulan