
Sumber: Karier.mu
PBL bukan sekadar membuat prakarya; ini adalah laboratorium karakter.
Dalam kurikulum modern, Project-Based Learning (PBL) sering dipuji karena meningkatkan kemampuan kognitif. Namun, bagi pendidik jenjang dasar, PBL memiliki fungsi yang lebih vital: Bina Karakter.
Ketika siswa diminta bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah nyata (misalnya: merancang kebun sekolah atau membuat kampanye hemat air), mereka dipaksa berhadapan dengan dinamika sosial yang kompleks.
Nilai Karakter dalam Fase PBL:
Fase Perencanaan (Collaborative Planning):
Di sini siswa belajar Demokrasi dan Menghargai Pendapat. Mereka harus bernegosiasi, mendengarkan ide teman yang berbeda, dan memutuskan jalan tengah tanpa berkelahi.
Fase Pelaksanaan (Execution):
Nilai Tanggung Jawab dan Disiplin diuji. Setiap anggota memiliki peran. Jika satu orang malas, proyek terhambat. Mereka belajar bahwa tindakan indvidu berdampak pada nasib kelompok (kolektif).
Fase Masalah/Kendala (Problem Solving):
Saat proyek gagal atau bahan habis, Ketangguhan (Resiliensi) dan Kreativitas terbentuk. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong mereka untuk tidak menyerah, melainkan mencari solusi alternatif.
Sejatinya, produk akhir dari PBL hanyalah bonus. Produk utamanya adalah perubahan sikap siswa yang menjadi lebih kolaboratif dan bertanggung jawab.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita