Program Proyek HAM di SD Mulai Tingkatkan Empati dan Sikap Saling Menghargai
Penerapan pendidikan HAM berbasis nilai di sekolah dasar mulai menunjukkan perubahan positif pada perilaku siswa. Sekolah meluncurkan program “Proyek HAM Mingguan” yang mengajak anak belajar lewat pengalaman langsung, bukan hanya teori. Dalam kegiatan ini, siswa dikenalkan pada konsep hak untuk dihargai, hak untuk merasa aman, serta hak untuk menyampaikan pendapat tanpa takut diejek. Guru menggunakan bahasa yang sederhana dan contoh keseharian agar anak mudah memahami. Pendekatan ini diyakini lebih efektif karena anak dapat menghubungkan nilai HAM dengan peristiwa yang mereka alami sendiri setiap hari.
Selama program berlangsung, siswa mengikuti berbagai aktivitas seperti jurnal emosi, permainan kooperatif, dan latihan komunikasi asertif. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat melihat bagaimana anak belajar mengenali perasaan diri dan memahami batasan perasaan orang lain. Siswa yang biasanya cepat marah mulai belajar menahan diri dan mengekspresikan ketidaknyamanan dengan kata-kata yang lebih sopan. Beberapa siswa mengaku merasa nyaman karena teman-temannya mulai lebih peduli dan mau mendengarkan. Guru juga mencatat penurunan jumlah konflik kecil yang biasanya muncul saat waktu istirahat.
Koordinator program menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman mampu menumbuhkan kesadaran internal pada siswa. Menurutnya, anak-anak lebih mudah memahami konsep hak dan tanggung jawab ketika mereka mempraktikkannya langsung, bukan hanya mendengarkan penjelasan. Ia juga menekankan pentingnya refleksi setelah setiap aktivitas, karena dari situlah siswa menyadari makna tindakan mereka. Banyak siswa menunjukkan kemampuan baru dalam mengidentifikasi kesalahan tanpa harus ditegur guru. Hal ini menjadi indikator bahwa nilai-nilai HAM mulai melekat dalam perilaku mereka.
Program ini tidak hanya berdampak pada hubungan antarsiswa, tetapi juga kualitas interaksi antara siswa dan guru. Guru merasa lebih terbantu karena siswa mulai terbuka menyampaikan perasaan tanpa takut dimarahi. Ketika terjadi kesalahpahaman, siswa lebih berani meminta maaf atau mengajukan solusi damai. Beberapa orang tua juga melaporkan bahwa anak mereka membawa kebiasaan positif ini ke rumah, seperti meminta izin lebih sopan atau berbagi cerita tentang perasaan. Perubahan ini menunjukkan bahwa pendidikan HAM yang diajarkan di sekolah dapat berpengaruh hingga ke lingkungan keluarga.
Sekolah berencana memperluas tema proyek mingguan untuk mencakup isu keadilan, kesetaraan, anti-perundungan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Evaluasi akan terus dilakukan melalui observasi perilaku siswa, lembar refleksi, dan diskusi dengan guru kelas. Pihak sekolah berharap model ini dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lain yang ingin menanamkan nilai HAM secara menyenangkan dan bermakna. Dengan pendekatan yang konsisten, sekolah percaya anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih empatik, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Pendidikan HAM di jenjang SD diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun budaya sekolah yang lebih manusiawi.
Author: Arika Rahmania
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI