Program Peer Support Diadaptasi untuk Edukasi HIV/AIDS pada Anak Usia SD
Program peer support diperkenalkan sebagai inovasi dalam kurikulum kesadaran HIV/AIDS. Siswa kelas tinggi dilatih membantu teman yang lebih muda. Mereka memberikan contoh perilaku sehat. Guru mengawasi setiap aktivitas dengan ketat. Siswa belajar saling mendukung. Program ini menumbuhkan rasa kebersamaan.
Peer support dilakukan dalam aktivitas sederhana. Siswa senior menjadi pendamping saat kegiatan kebersihan diri. Mereka menunjukkan cara mencuci tangan dengan benar. Aktivitas berjalan santai dan menyenangkan. Guru memastikan interaksi tetap aman. Anak kecil merasa lebih percaya diri.
Program ini juga melatih kemampuan kepemimpinan siswa senior. Mereka belajar berkomunikasi dan memberi contoh baik. Guru memberi pengarahan sebelum pendampingan dimulai. Siswa senior merasa memiliki peran penting. Hal ini memperkuat karakter positif. Interaksi antar-jenjang meningkat.
Setelah kegiatan, guru mengajak evaluasi bersama. Siswa senior menceritakan pengalaman mereka. Anak-anak kecil juga memberikan pendapat. Guru merangkum hal positif yang terjadi. Evaluasi meningkatkan kualitas program. Semua peserta merasa dilibatkan.
Peer support memperkuat nilai anti-stigma. Anak-anak belajar menghargai perbedaan. Guru menekankan bahwa setiap orang berhak dihormati. Program ini menciptakan budaya sekolah yang peduli. Anak memahami pesan kesehatan secara lebih mendalam. Hubungan sosial lebih positif.
Program peer support diprediksi terus berkembang. Banyak sekolah melihat manfaatnya bagi perkembangan siswa. Edukasi HIV/AIDS dapat tersampaikan lebih hangat. Anak merasa belajar dari teman sebaya lebih nyaman. Kurikulum semakin kolaboratif. Pembelajaran menjadi lebih humanis.
Author: Arika Rahmania
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI