PROBLEMATIKA PENDIDIKAN: PELUANG DAN TANTANGAN PEMBELAJARAN ROBOTIK PADA PENDIDIKAN DASAR

Gambar. Pembelajaran Robotik pada Pendidikan Dasar
Dampak Trend Global Terhadap Pendidikan:
Pembelajaran Robotik Sebagai Katalisator Mencapai Keterampilan Abad Ke-21
Terasa atau tidak, saat ini perkembangan teknologi tidak
lagi dalam kecepatan konstan, namun berakselerasi dan mengubah tatanan
kehidupan manusia dari cara belajar, bekerja, maupun berinteraksi sehingga
mendorong transformasi global. Pergerakan menuju fase society 5.0, di mana
integrasi ruang siber dan fisik tidak dapat dielakkan memberi dorongan yang
sangat kuat untuk melakukan transformasi dan adaptasi. Fakta ini mengakibatkan
perubahan yang mendasar dalam sistem pendidikan, terutama pada aspek keterampilan
Abad ke-21. Di tengah momentum ini, kehadiran pembelajaran robotik muncul
sebagai metodologi serta media yang menjembatani kecakapan dalam aspek digital
dan fisik. Harapan besar, pembelajaran robotik ini menjadi jembatan digital
pedagogis yang efektif dalam memenuhi perkembangan zaman.
Pembelajaran robotik sebagai perwujudan pembelajaran yang
mengintegrasikan antara konsep digital dengan implementasi fisik sehingga
peserta didik sekolah dasar akan mendapat sebuah pembelajaran holistic yang
konkret. Melalui pembelajaran ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan
kemampuan berpikir kritis dan berpikir komputasi melalui proses dekomposisi,
abstraksi, pengenalan pola, dan berpikir algoritmik sehingga lebih adaptif
terhadap perubahan. Kajian dari berbagai jurnal, termasuk yang dirangkum dalam
International Journal of Education in Mathematics, Science and Technology
(2024), menegaskan bahwa robotika efektif meningkatkan motivasi belajar,
kolaborasi, kreativitas, dan
keterampilan computational thinking serta integrasi ilmu STEM (Sains,
Teknologi, Teknik, dan Matematika).
Namun, idealisme pedagogis yang muncul harus terbentur dengan kenyataan yang jauh dari ekspektasi. pada konteks pendidikan dasar di Indonesia, penerapan pembelajaran robotik masih mengalami berbagai tantangan sistemik, yang jika tidak mendapatkan perhatian akan memperburuk ketidaksetaraan alih-alih meratakannya.
Tantangan Utama Implementasi Pembelajaran Robotik
1. Disparitas Infrastruktur dan
Aksesibilitas
Tantangan utama adalah perbedaan yang jauh terhadap akses
digital pada wilayah perkotaan dan pedesaan, bahkan sekolah swasta elit dan
sekolah negeri. Pembelajaran robotik yang ideal sangat bergantung pada
perangkat keras (kit robotik) yang sebagian besar didapat dengan biaya tinggi,
perangkat tambahan seperti komputer atau tablet, serta koneksi jaringan yang
stabil. Beberapa kajian penelitian menyoroti sekolah-sekolah di perkotaan
terlebih swasta elit lebih siap secara infrastruktur maupun aksesibilitas. Kondisi
yang berbeda terjadi di sekolah-sekolah pedesaan, atau bahkan di tepian kota
masih menghadapi tantangan serius berkaitan dengan ketersediaan sumber daya dan
akses jaringan. Disparitas ini menimbulkan kesenjangan digital sejak dini dan
mengonfirmasi bahwa siswa yang memiliki latar belakang sosio-ekonomi lebih
rendah akan ketinggalan dalam penguasaan literasi teknologi dasar. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh
pemerataan anggaran, akan tetapi tentang keadilan dan distribusi pendidikan
yang belum merata.
2.
Defisit Kompetensi dan Persepsi Guru
Guru adalah ujung tombak, tetapi
kompetensi pedagogis dan teknologis mereka belum berkembang seimbang. Kesiapan
dan pengetahuan guru yang minim menjadi kendala terbesar kedua. Di Indonesia,
pelatihan terstruktur dan berkelanjutan belum dilakukan secara merata sehingga
masih banyak guru mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan teknologi secara
signifikan. Penelitian yang dilakukan oleh Purmanna et al. (2025)
menjelaskan bahwa proses pengembangan guru yang mendalam sangatlah penting
untuk mendukung kemampuan STEM coding robotics. Tanpa adanya pelatihan yang
terstruktur, pembelajaran robotic hanya berpotensi sebagai aktivitas eksperimen
atau merakit alay, tanpa adanya penekanan pada inti logika pemrograman atau
computational thinking.
Selain itu, adanya perspektif negatif guru dalam memandang
robotika masih banyak terjadi. banyak guru beranggapan bahwa robotika sebagai
area yang rumit, sulit, dan memerlukan biaya besar. Persepsi ini memperlambat
adopsi, menciptakan hambatan psikologis di mana guru enggan berinovasi dan
mencoba pendekatan baru, padahal solusi sederhana seperti unplugged coding
dapat diterapkan tanpa perangkat canggih untuk membangun fondasi computational
thinking.
3.
Keterbatasan Dukungan Kebijakan
Holistik
Meskipun Kurikulum Merdeka telah memberi ruang bagi
pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial, ia
belum menyediakan kebijakan nasional yang komprehensif terkait kurikulum
robotik di sekolah dasar. Kebijakan yang ada cenderung fragmentaris, hanya
mendorong digitalisasi tanpa mengatur mekanisme kunci, seperti: pemerataan
akses infrastruktur, standar pelatihan dan sertifikasi guru robotik, instrumen
penilaian standar untuk mengukur keberhasilan pengembangan computational thinking,
serta tanggung jawab etika terkait pengenalan teknologi AI pada anak usia dini.
Kajian Nurhayati et al. (2025) juga menyoroti dimensi sosial, yakni keterbatasan kesiapan dan kompetensi digital orang tua. Keberhasilan implementasi di tingkat dasar sangat ditentukan oleh dukungan ekosistem belajar yang melibatkan guru, orang tua, dan kebijakan sekolah. Berdasarkan analisis tersebut, maka adanya kebijakan yang mengikat elemen-elemen tersebut menjadi sangatlah penting. Sangat disayangkan apabila pembelajaran robotik ini hanya dijadikan simbol kemajuan tanpa memberikan dampak yang signifikan pada kualitas pendidikan secara merata
Ide Solusi Menghadapi Tantangan
Pembelajaran Robotik
Untuk mengatasi tantangan ini, intervensi perlu bersifat
multi-level dan menekankan pengertian dasar pedagogis serta infrastruktur
alternatif. Pertama, pembelajaran robotik mengadopsi Unplugged Coding. Di
sekolah dengan sumber daya terbatas, unplugged coding adalah solusi jembatan
yang terjangkau dan efektif. Penerapan metode ini, menekankan computational
thinking melalui permainan, kartu, atau aktivitas fisik tanpa menggunakan
perangkat digital. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Vasquez Gomes dkk
(2025) membuktikan bahwa metode ini sangat efektif dilakukan untuk membangun
dasar computational thinking sebelum siswa beralih ke block koding seperti
Scratch atau text codng yang lebih kompleks.
Kedua, memberikan pelatihan pada guru secara
komprehensif. Program pengembangan profesional harus berfokus pada pedagogi
computational thinking dan mengubah persepsi guru. Upaya yang dapat dilakukan
yaitu kolaborasi universitas, melalui Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakultas
Teknik, harus merancang kurikulum pelatihan yang praktis, menekankan integrasi
STEM, dan mencakup pengenalan alat-alat yang terjangkau (misalnya Arduino atau
kit IoT sederhana) serta cara mengajar dengan pendekatan PjBL.
Ketiga, mendorong kebijakan secara nasional yang
komprehensif untuk kurikulum robotik. Kurikulum yang dikembangkan tidak hanya
mencakup proses pembelajaran, akan tetapi mencakup tanggung jawab etika, dampak
pergeseran kebutuhan industri, dan instrumen penilaian standar untuk mengukur
keberhasilan pembelajaran robotik. Dengan demikian, pembelajaran robotik akan
lebih merata dan terstandar.
Transformasi Inklusif
Melihat perkembangan yang ada, pembelajaran robotik di
sekolah menjadi hal yang sangat krusial sebagai metodologi yang melatih siswa
untuk berpikir sistematis, logis, dan kreatif. Hal ini menunjukkan bahwa
pembelajaran robotik berpotensi besar untuk membentuk siswa memiliki
keterampilan Abad ke-21. Akan tetapi implementasi yang ideal masih terhalang
oleh banyaknya tantangan seperti disparitas infrastruktur dan literasi digital,
semangat inovasi ini harus tetap dijaga dengan semangat inklusivitas. Namun,
ditengah keterbatasan, tetap ada kemungkinan penerapan melalui solusi inovatif
dan intervensi sistemik. Sudah saatnya kampus, pemerintah, dan sekolah dasar
bersinergi menciptakan model pembelajaran robotik yang inklusif, kontekstual,
dan berkeadilan. Sebab, masa depan pendidikan kita bukan hanya tentang
mengajarkan anak-anak menggunakan robot, tetapi membentuk manusia yang mampu
menciptakan masa depan itu sendiri.
Author : R. Alfian Putri
Editor : Naela Zulianti Ashlah