Praktik Pendidikan Antikorupsi dalam Pembelajaran Harian Guru
Upaya memperkuat budaya antikorupsi di sekolah semakin
menguat, seiring meningkatnya kesadaran bahwa integritas harus dibangun sejak
usia dini. Guru, sebagai figur sentral dalam pembelajaran, kini menjadi aktor
utama dalam memastikan nilai kejujuran dan tanggung jawab tertanam dalam
perilaku siswa sehari-hari.
Berbagai sekolah mulai menerapkan praktik antikorupsi
dalam aktivitas sederhana namun konsisten. Mulai dari mengajarkan siswa untuk
antre dengan tertib, membiasakan pengembalian barang, menghindari kecurangan
saat ujian, hingga mengajak siswa berdiskusi mengenai keputusan yang adil dalam
kerja kelompok. Langkah-langkah kecil ini terbukti lebih efektif daripada
ceramah moral semata.
Menurut Prof. David McLean, pakar pendidikan moral
dari University of Glasgow, pembiasaan sehari-hari jauh lebih menentukan dalam
membentuk karakter. “Integrity is not
taught through lectures, but through lived experiences. Teachers must embody
honesty, fairness, and transparency so students can learn by observing real
examples,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa siswa menangkap nilai terutama
melalui keteladanan.
Pendapat serupa disampaikan oleh Dr. Karen Peterson,
ahli pendidikan karakter dari Arizona State University. Ia menyatakan bahwa
pencegahan korupsi di sekolah harus dimulai dari struktur kelas yang jujur dan
terbuka. “When teachers model ethical
decision-making, students develop a moral compass that guides their behavior
beyond the classroom,” kata Peterson.
Sejumlah sekolah juga mulai menggunakan pendekatan
pembelajaran kreatif, seperti simulasi kasus etika, permainan peran tentang
keadilan, dan refleksi harian mengenai perilaku jujur. Strategi ini membuat
siswa memahami dampak nyata dari tindakan tidak etis dan mendorong mereka untuk
memilih jalan yang benar.
Dengan keteladanan guru yang konsisten dan budaya
kelas yang mendukung, praktik pendidikan antikorupsi diharapkan menjadi pondasi
kuat dalam membangun generasi muda berintegritas. Upaya ini bukan hanya untuk
mencegah kecurangan akademik, tetapi juga untuk menciptakan masyarakat masa
depan yang lebih bersih dan bertanggung jawab.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI