Peta Konsep Pendidikan HAM dalam Mata Pelajaran Wajib Jenjang SD
Peta konsep Pendidikan HAM sangat diperlukan untuk
memastikan bahwa materi HAM tidak hanya ditumpuk di satu mata pelajaran, tetapi
terdistribusi secara logis dan progresif di seluruh mata pelajaran wajib.
Tujuan pemetaan ini adalah untuk menghindari tumpang tindih konsep dan menjamin
cakupan materi HAM yang komprehensif dan berkelanjutan dari Kelas 1 hingga
Kelas 6.
Mata pelajaran kunci seperti PPKn dan IPS menjadi fokus
utama pemetaan. Di PPKn, konsep-konsep inti seperti Hak Sipil (Hak Berpendapat,
Hak Beribadah) dan Kewajiban Asasi ditempatkan secara eksplisit. Sementara itu,
di IPS, fokusnya adalah pada Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (HESB), seperti
Hak atas Lingkungan Sehat dan Hak atas Keadilan Sosial yang dikaitkan dengan
struktur masyarakat.
Integrasi lintas kurikulum juga diidentifikasi dalam mata
pelajaran non-sosial. Melalui Bahasa Indonesia, konsep HAM disampaikan melalui
analisis karakter dan resolusi konflik dalam cerita (Hak Keadilan). Dalam Seni
dan Budaya, HAM diintegrasikan melalui Hak Berekspresi dan apresiasi keragaman
budaya, yang secara implisit mendukung prinsip non-diskriminasi.
Pembuatan tabel atau diagram digunakan untuk memetakan tema
HAM spesifik per mata pelajaran. Misalnya, di Kelas 1-3, fokusnya adalah HAM
yang sangat personal dan konkret (Hak Bermain di PJOK). Sementara di Kelas 4-6,
fokusnya beralih ke HAM yang lebih abstrak dan kolektif (Hak Kesejahteraan
Sosial di IPS).
Keterkaitan antar konsep ditekankan melalui pembelajaran
tematik. Misalnya, konsep Hak dan Kewajiban dalam PPKn dihubungkan dengan
konsep Tanggung Jawab Sosial di IPS. Keterkaitan ini memastikan bahwa siswa
memahami HAM sebagai satu kesatuan yang saling bergantung (indivisible), bukan
daftar hak yang terpisah-pisah.
Implikasi pedagogis dari peta konsep ini adalah memberikan
panduan praktis bagi guru SD untuk melaksanakan pengajaran terpadu. Guru dapat
melihat kapan dan di mana sebuah konsep HAM diperkenalkan, diperkuat, dan
diaplikasikan, memungkinkan mereka untuk merancang kegiatan pembelajaran yang
lebih kohesif dan holistik.