Permainan Peran Dorong Siswa Memahami Perilaku Sehat dan Tanpa Stigma
Permainan peran menjadi metode baru yang diintegrasikan dalam kurikulum kesadaran HIV/AIDS. Guru mengajak siswa memerankan situasi sederhana terkait perilaku sehat. Aktivitas ini membuat siswa lebih aktif dan antusias. Permainan peran membantu mereka memahami cara bersikap positif. Guru memastikan skenario aman dan sesuai usia. Pendekatan ini mendapat respons baik dari siswa.
Skenario permainan mencakup interaksi sehari-hari yang sering ditemui anak. Siswa belajar meminta bantuan, menghargai teman, dan menjaga kebersihan diri. Guru memberi contoh sebelum permainan dimulai. Setiap peran memiliki pesan edukatif. Anak-anak saling mendukung selama bermain. Suasana kelas menjadi lebih hidup.
Permainan peran melatih keberanian siswa berbicara di depan teman. Guru memberikan apresiasi agar anak lebih percaya diri. Aktivitas ini juga melatih kemampuan komunikasi. Anak belajar menyampaikan pesan dengan jelas. Hal ini membantu pemahaman tentang perilaku sehat. Nilai sosial tertanam secara alami.
Setelah permainan selesai, guru mengajak refleksi. Anak diminta menceritakan perasaan mereka selama bermain. Guru mengarahkan diskusi untuk memperkuat pesan edukatif. Refleksi membuat siswa memahami makna perilaku sehat. Pendekatan ini memperkuat proses pembelajaran. Anak lebih peka terhadap lingkungan.
Permainan peran juga membantu guru mengidentifikasi kebutuhan siswa. Mereka bisa melihat kemampuan kerja sama dan komunikasi anak. Guru dapat menyesuaikan materi lanjutan berdasarkan observasi. Hal ini membuat pembelajaran lebih relevan. Anak merasa diperhatikan. Kurikulum semakin personal.
Pendekatan permainan peran diprediksi terus berkembang. Banyak pendidik melihat manfaatnya bagi sosial-emosional siswa. Aktivitas ini membantu menanamkan nilai anti-stigma sejak dini. Edukasi HIV/AIDS menjadi lebih manusiawi. Pembelajaran berlangsung menyenangkan. Kurikulum menjadi lebih inovatif.
Author: Arika Rahmania
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI