Perempuan di Garda Depan Aksi Kemanusiaan
Dalam
situasi pascabencana, perempuan kerap tampil di garis terdepan dalam berbagai
aksi kemanusiaan di tingkat keluarga maupun komunitas. Mereka mengorganisasi
dapur umum, mengelola distribusi bantuan, merawat anggota keluarga yang sakit,
serta memastikan kebutuhan anak-anak terpenuhi. Peran ganda ini menjadikan
perempuan sebagai pilar penting dalam menjaga keberlangsungan hidup sehari-hari
di tengah keterbatasan.
Di
tingkat komunitas, kelompok perempuan sering menjadi penggerak solidaritas
sosial. Melalui posko warga, organisasi lokal, atau komunitas keagamaan, mereka
berkoordinasi mengumpulkan logistik, menjahit pakaian, hingga menyediakan
makanan siap saji bagi para penyintas. Ketelitian, kedekatan sosial, dan
kemampuan membangun jejaring membuat upaya bantuan menjadi lebih terstruktur
dan tepat sasaran.
Perempuan
juga berperan besar dalam pemulihan psikososial. Ibu, guru, kader kesehatan,
dan relawan perempuan kerap menjadi tempat pertama bagi anak-anak dan lansia
untuk berbagi cerita dan mencari ketenangan. Sentuhan empati, pendampingan
emosional, serta aktivitas kreatif yang mereka fasilitasi membantu meredakan
trauma dan menguatkan kembali rasa aman di lingkungan sekitar.
Seiring
berjalannya waktu, keterlibatan perempuan meluas ke tahap rekonstruksi dan
perencanaan masa depan. Mereka ikut terlibat dalam musyawarah warga,
perancangan hunian sementara, hingga program pemulihan ekonomi keluarga melalui
usaha kecil dan pelatihan keterampilan. Partisipasi ini memastikan bahwa
kebutuhan kelompok rentan turut diperhitungkan dalam pembangunan kembali.
Ketika perempuan diberi ruang dan dukungan, aksi kemanusiaan menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan. Dari dapur umum hingga ruang perencanaan, kehadiran mereka menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memperkuat peran sosial dan kepemimpinan perempuan dalam masyarakat.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita